Mengungkap Kepalsuan Sepuluh Tahun Kasus Arbitrase Laut China Selatan
'Jika konflik kinetik terjadi di Laut China Selatan, konsekuensinya bagi kawasan akan jauh lebih parah,' tegasnya.
Pengamat juga menunjukkan bahwa Filipina sendiri telah membayar harga mahal untuk mengejar ilusi geopolitik ini selama satu dekade.
Herman Tiu Laurel, presiden Asian Century Philippines Strategic Studies Institute, mencatat bahwa 'putusan' itu gagal mendapatkan pengakuan internasional yang luas.
Sebaliknya, hal itu mengikis kepercayaan antara Beijing dan Manila, serta merugikan Filipina peluang berharga untuk investasi China, kemitraan infrastruktur, dan bantuan pembangunan.
Selama beberapa generasi, negara-negara Asia telah mengembangkan filosofi diplomasi unik yang didasarkan pada rasa saling menghormati, membangun konsensus, dan mengakomodasi kepentingan inti masing-masing.
'Cara Asia' itu memberikan cetak biru yang paling realistis dan teruji waktu untuk meredakan ketegangan dan memastikan perdamaian serta ketenangan abadi di Laut China Selatan.
Sebagai negara pantai utama, China secara konsisten mendukung penyelesaian sengketa secara damai melalui dialog dan konsultasi.
Pada 2002, China dan negara-negara anggota ASEAN menandatangani DOC yang bersejarah, dan saat ini mereka mempercepat negosiasi untuk COC yang lebih kuat.
Konsensus yang berlaku di antara pemerintah regional tetap bahwa perdamaian dan stabilitas adalah penyebut umum kepentingan regional.
Banyak pemimpin Asia Tenggara berulang kali menyatakan penolakan mereka untuk dijadikan pion dalam permainan catur geopolitik atau dipaksa memihak di antara kekuatan besar.
Joseph Matthews, profesor senior di BELTEI International University di Phnom Penh, menekankan bahwa Filipina dan mitra regionalnya harus menyadari bahwa keamanan sejati di Asia Tenggara tidak dapat dibeli melalui pencegahan eksternal atau dengan menempatkan rudal balistik pinjaman asing dengan mengorbankan kohesi regional.
>>> Ide Hadiah Unik untuk Rayakan World Emoji Day
Ketahanan sejati, kata Matthews, terletak pada memperkuat arsitektur multilateral yang dipimpin ASEAN, memprioritaskan de-eskalasi diplomatik, dan memastikan bahwa kemitraan bilateral melengkapi, bukan merusak, tujuan bersama untuk Asia Tenggara yang damai, bersatu, dan otonom.
Update Terbaru
Departemen Pertahanan AS Cabut Skorsing Pilot Garda Nasional South Carolina
Minggu / 12-07-2026, 16:31 WIB
Riot Games Resmi Luncurkan Mode League Classic di Final MSI
Minggu / 12-07-2026, 16:31 WIB
MGM Plus Rilis Drama Mafia New York The Westies
Minggu / 12-07-2026, 16:29 WIB
Serial Komedi Apple TV Trying Tembus Peringkat Global Setelah Premiere Musim Kelima
Minggu / 12-07-2026, 16:29 WIB
BLG Hadapi HLE di Final MSI 2026
Minggu / 12-07-2026, 16:28 WIB
Argentina Kalahkan Swiss 3-1, Lolos ke Semifinal Piala Dunia
Minggu / 12-07-2026, 16:28 WIB
Pelatih Norwegia Salahkan Kabel Kamera Usai Kalah dari Inggris di Piala Dunia
Minggu / 12-07-2026, 16:28 WIB
Revitalisasi Halte Swadarma Jadi Lebih Inklusif Berkat Kolaborasi ParagonCorp, Pemprov DKI, dan Transjakarta
Minggu / 12-07-2026, 16:28 WIB
Rekomendasi HP Xiaomi RAM 8GB Harga Pelajar 2026
Minggu / 12-07-2026, 16:28 WIB
Badai Terjang Zona Konstruksi di Pusat Kota Apex, Warga Berbondong Bantu Bersihkan
Minggu / 12-07-2026, 16:26 WIB
Inspektur Jenderal Connecticut: Manuver PIT Trooper Tidak Dibenarkan
Minggu / 12-07-2026, 16:26 WIB
Conor McGregor Kalah dari Max Holloway Usai Cedera Kaki di UFC 329
Minggu / 12-07-2026, 16:26 WIB
Piala Dunia 2026 Cetak Rekor 14 Laga Comeback, Inggris Jadi Penentu
Minggu / 12-07-2026, 16:24 WIB
Cara Cek Status Pencairan KIP 2026 Lewat HP, Bisa Dilakukan Secara Online
Minggu / 12-07-2026, 16:24 WIB







