Kemudian, ia juga menilai dampak PFII terhadap publik akan terbatas.

"Bagi sektor riil dan masyarakat, saya justru melihat manfaat langsungnya akan relatif terbatas," nilai Yusuf.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menyampaikan eksekusi PFII yang sangat baik kemungkinan dampak signifikan baru terasa dalam 10 hingga 15 tahun ke depan.

"Ini karena membangun kredibilitas global membutuhkan rekam jejak panjang dan konsistensi kebijakan lintas pemerintahan.

Risiko terbesarnya adalah inkonsistensi kebijakan dan perubahan arah politik yang dapat merusak kepercayaan investor," jelas Ronny.

Lebih lanjut, Ronny meminta agar janji pembiayaan sektor riil dilihat secara kritis karena pusat keuangan internasional justru kerap berkembang di sektor jasa keuangan itu sendiri, bukan langsung mengalir ke sektor riil domestik.

Ia memperingatkan risiko munculnya enclave economy, yakni kawasan eksklusif yang tidak terhubung dengan ekonomi nasional.

>>> Assist Messi, Sundulan Mac Allister Bawa Argentina Unggul di Menit 10

"Artinya, manfaatnya bisa terkonsentrasi pada institusi keuangan besar dan tenaga kerja berkeahlian tinggi, sementara UMKM dan masyarakat luas tidak langsung merasakan dampaknya," pungkasnya.