Reaksi Netizen: Antara Empati dan Cibiran

Dunia maya seketika terbelah. Di satu sisi, banyak netizen yang memberikan dukungan penuh dan merasa relate dengan apa yang disampaikan Sabrina. Mereka menyoroti bahwa mahasiswa S3 umumnya adalah profesional yang memiliki tanggung jawab besar di luar kampus.
 
"Baru tahu kalau S3 pun masih keberatan absensi ya. Kalau S1 oke lah, lagi masa-masa belajar emang. Tapi kalau udah S3 berarti kan lebih banyak real life matter yang harus diurus daripada mahasiswa S1. Kok gitu enggak dipertimbangin ya?" tulis salah satu netizen yang bersimpati.
 
Senada dengan itu, akun lain menambahkan, "Nah ini maksudnya kak, real life things yg harus diurus, entah kerjaan, keluarga, S3 tuh rata-rata pasti udah 30an ke atas enggak sih? Udah usia enggak nganggur lagi. You deserve better environment sih memang kak. Semangat ya."
 
Namun, di sisi lain, tidak sedikit warganet yang melayangkan kritik tajam. Mereka menilai Sabrina seharusnya sudah memahami konsekuensi dan bobot kehadiran sebelum memutuskan untuk mendaftar dan melanjutkan studi S3 di UI. Tudingan bahwa Sabrina "menyalahkan sistem" atau "tidak tahu diri" pun bermunculan.
 

Klarifikasi Tegas Sabrina: "Things Change, Plans Change"

Menanggapi gelombang kritik yang mulai mengarah pada opini yang menyesatkan, Sabrina akhirnya memberikan tanggapan yang lugas dan penuh ketegasan. Ia menjelaskan bahwa keputusannya untuk mundur bukan karena ia merasa lebih pintar dari sistem, melainkan karena adanya perubahan besar dalam kehidupan pribadinya.
 
"Hehehe karena aku sadar betul enggak bisa seenaknya makanya mengundurkan diri mba, kebetulan prioritasku saat ini memulai karir di NY jadi memang enggak memungkinkan untuk lanjut S3 di Indonesia," tulis Sabrina dengan nada yang tetap ramah namun tegas.
 
Ia menekankan bahwa sorotannya mengenai absensi murni sebuah harapan untuk ke depan, bukan bentuk penyesalan atau tudungan terhadap almamaternya. "Soal presensi hanya harapan kedepan untuk univ di Indonesia. Lastly, point dari pengunduran ini karena jalan hidupku berubah. Itu aja sih," tambahnya.
 
Sabrina juga menampik keras anggapan bahwa ia tidak tahu konsekuensi dari aturan kehadiran. "Bukan enggak tahu, but things change, plans change," tegasnya.
 
Lebih lanjut, ia membuka sedikit tirai kehidupan pribadinya yang mengalami gejolak perubahan besar pada tahun lalu, yang pada akhirnya memaksanya untuk mengambil keputusan sulit demi sebuah prioritas baru. "Aku pun enggak pernah tahu kalau hidupku tiba-tiba ada perubahan besar tahun lalu yang bikin aku akhirnya memilih untuk pindah," jelasnya.