Pendekatan ini menumbuhkan nilai tanggung jawab, kerja sama, disiplin, dan penghargaan terhadap makanan sejak dini.

"Program ini tidak hanya membangun kesehatan fisik, tetapi juga membentuk kebiasaan positif dan karakter yang akan dibawa hingga dewasa," tambah Thinni.

Kunjungan ditutup dengan diskusi bersama manajemen sekolah dan komite pendidikan setempat. Temuan mengenai regulasi, pembiayaan, sistem logistik, hingga pelibatan masyarakat akan menjadi bahan kajian penelitian lanjutan.

Prof Thinni berharap hasil pembelajaran dari Jepang dapat memberikan kontribusi nyata bagi kebijakan makan bergizi di Indonesia.

>>> Genap 101 Tahun, Ini Rahasia Mahathir Mohamad Tetap Sehat

"Kolaborasi ini langkah awal untuk rekomendasi kebijakan yang efektif, berkelanjutan, dan sesuai kebutuhan masyarakat. Harapannya, program gizi anak berdampak jangka panjang pada kualitas SDM Indonesia," pungkasnya.