Pierpaolo Piccioli resmi memulai debutnya sebagai direktur kreatif Balenciaga dengan koleksi couture musim dingin 2026/2027.

Koleksi yang diberi nama Couture 55 ini menjadi penanda arah baru rumah mode tersebut.

>>> 8 Figur Publik yang Menduduki Jabatan Komisaris dan Direktur BUMN

Piccioli tidak berusaha menghapus jejak pendahulunya atau sekadar mengulang karya Cristóbal Balenciaga. Sebaliknya, ia memilih kembali pada fondasi utama rumah mode ini: konstruksi garmen tingkat tinggi.

Alih-alih mengejar sensasi, koleksi ini tampil tenang tanpa provokasi atau gimmick budaya pop. Piccioli menawarkan manifesto bahwa couture adalah pusat dari keterampilan pembuatan pakaian.

Pendekatan tersebut berakar pada filosofi Cristóbal Balenciaga yang dijuluki Christian Dior sebagai "the master of us all".

Bagi Piccioli, warisan itu bukan sekadar bentuk cocoon coat, melainkan cara berpikir tentang tubuh, ruang, dan konstruksi.

Ia tidak mengutip arsip secara literal, melainkan menerjemahkannya melalui teknologi modern abad 21. Beberapa mantel dan gaun kasmir dibuat menggunakan pemindaian digital tiga dimensi tubuh setiap model.

Data tersebut diubah menjadi struktur internal menyerupai karapas yang menopang siluet dari dalam. Hasil akhirnya terlihat bersih dan presisi, tetapi seluruh kerumitan tekniknya tersembunyi di balik permukaan.

Pendekatan ini membalik cara pandang terhadap couture: konstruksi tidak lagi menyembunyikan tubuh, melainkan lahir dari tubuh itu sendiri.

Hiasan-hiasan tidak ditempatkan sebagai ornamen yang langsung menarik perhatian.

Sulaman justru muncul dari balik lipatan, dari ujung hem, atau tersembunyi di balik lapel. Ada disiplin visual yang mengingatkan bahwa kemewahan tidak selalu membutuhkan volume berlebihan.

Inovasi Material dan Kolaborasi

Di sisi material, Piccioli menghadirkan inovasi dengan menggunakan serat bio-engineered dari AMSilk.