Wilsen Willim menggelar peragaan bertajuk 'Algorithm: Universal Language' di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (8/7/2026). Acara ini menandai perjalanan satu dekade kariernya sebagai desainer.

Namun, perhelatan tersebut bukan sekadar perayaan. Wilsen menjadikannya babak baru untuk menunjukkan potensi dalam mengelevasi wastra dengan sentuhan urban ke level haute couture.

>>> Yamaha Aerox-e Resmi Dijual di India, Harga Rp52 Jutaan

Karier Wilsen dimulai setelah memenangkan Harper's Bazaar Asia NewGen Fashion Awards 2016. Awalnya, ia tidak berniat mengolah kain tradisional.

Permintaan seorang klien beberapa tahun lalu untuk membuat pakaian dari batik menjadi awal relasinya dengan wastra. Ia merasa kain warisan budaya belum mendapat apresiasi layak.

Lulusan Fine Art Nanyang University ini juga merestorasi wastra lawas dan langka milik klien. Koleksi terbarunya menjadi semacam surat cinta untuk wastra Nusantara.

>>> Indosat Fokus pada AI, Vikram Sinha Perpanjang Masa Jabatan 5 Tahun

Lima jenis kain digarap dalam koleksi ini: tenun sutra Garut, tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu, songket Jembrana, songket Minang Halaban, dan batik tulis.

Tajuk 'Algorithm' merujuk pada kerumitan pembuatan tenun. Menurut Wilsen, leluhur sudah mengenal sistem algoritma dalam menjalin benang lungsi dan pakan jauh sebelum komputer ada.

"Tenun merupakan kombinasi algoritma yang sangat rumit dan nenek moyang kita sudah memahaminya sebelum komputer eksis," ujar Wilsen.

>>> Razer Luncurkan Hammerhead V3 X Hyperspeed untuk Xbox dan PS5

Ia juga mengembangkan tenun dari benang denim daur ulang.