>>> Babak Baru B50: Lepas Jerat Impor Solar, Siapkah Infrastruktur RI?

Terlepas dari gencatan senjata dan nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang yang diteken dengan Iran baru-baru ini, AS kembali melancarkan serangan terbaru ke sejumlah titik di selatan Iran selama dua hari terakhir.

AS berdalih serangan dilakukan sebagai "hukuman" atas Iran yang terus melanggar perjanjian yakni dengan menyerang kapal-kapal komersil yang melintasi Selat Hormuz.

Sementara itu, Iran membela diri penyerangan terhadap kapal komersial dilakukan karena kapal-kapal itu berlayar di luar koridor yang Teheran tetapkan.

Iran menegaskan tetap menjadi pihak yang berhak mengontrol Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia.

Teheran mengutuk serangan terbaru AS ke negaranya dan menegaskan Washington telah jelas-jelas melanggar MoU dan gencatan senjata.

Mereka bersumpah akan melancarkan serangan balasan yang lebih berat terhadap situs-situs militer AS di Timur Tengah.

Ini bisa memicu perang pecah lagi bahkan hingga meluas ke negara-negara Arab lain yang menampung pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Selama ini Israel memang tidak mendukung AS untuk rujuk dengan Iran, apalagi meneken MoU mengakhiri perang.

Selama AS-Iran berupaya berunding, Israel kerap kali melakukan hal-hal yang dapat merusak upaya negosiasi. Salah satunya yakni melancarkan serangan ke Lebanon selatan yang dikuasai milisi Hizbullah, sekutu Iran.

>>> Waspada! 10 Kebiasaan Ini Bisa Menghambat Kamu Menjadi Kaya

Di sisi lain, gencatan senjata Israel dan Hizbullah di Lebanon masuk dalam syarat perundingan AS-Iran agar bisa berjalan.