Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran. Serangan itu terjadi di tengah prosesi pemakaman Mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Dilaporkan, serangan menyasar sejumlah lokasi strategis. Salah satunya area di sekitar satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil milik Iran.

>>> Jadwal Bioskop Trans TV 11 – 12 Juli 2026

Wakil Gubernur Bushehr, Ehsan Jahanian, mengatakan beberapa titik di provinsi tersebut menjadi sasaran. Termasuk lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir, pangkalan militer, dan dermaga perikanan di selatan provinsi.

Hingga laporan awal, belum ada informasi mengenai korban jiwa akibat serangan tersebut.

Pemakaman Khamenei dan Eskalasi Konflik

Serangan berlangsung saat rangkaian pemakaman Khamenei di Mashhad. Peti jenazahnya dikawal pesawat tempur, sementara ribuan warga memadati lokasi dengan spanduk seruan balas dendam terhadap AS.

AS menyatakan telah menyerang sekitar 90 target di Iran. Menurut Washington, operasi itu bertujuan melemahkan kemampuan musuh mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump menyatakan nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara awal bulan lalu telah berakhir. Ini buntut dari serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.

>>> Cara Kapal Selam Meluncurkan Rudal Balistik Tanpa Membasahi Senjata

Iran merespons dengan meluncurkan serangan ke target terkait AS di Kuwait, Qatar, dan Pangkalan Militer Azraq di Yordania.

Garda Revolusi Iran mengklaim menembakkan 10 rudal balistik ke pangkalan tersebut.

Pemerintah Iran juga menuduh AS melakukan kejahatan perang. Serangan disebut turut menyasar dua jembatan penting di timur yang menjadi jalur perdagangan utama menuju China.

Situasi ini meningkatkan kekhawatiran internasional terhadap negosiasi antara Washington dan Teheran. Pembicaraan untuk kesepakatan permanen sedianya dijadwalkan dimulai setelah rangkaian tujuh hari pemakaman Khamenei.

>>> Law Roach Kembali Jadi Juri Project Runway Musim 22

Iran menegaskan jalur pelayaran tetap menjadi instrumen strategis dalam negosiasi. Sementara AS menilai operasi militer diperlukan untuk menjaga kebebasan navigasi di jalur energi penting dunia.