Saat kapal selam nuklir meluncurkan rudal balistik dari bawah permukaan laut, banyak yang membayangkan roket menembus air laut secara langsung.

Namun, kenyataannya berbeda.

>>> Law Roach Kembali Jadi Juri Project Runway Musim 22

Dengan rudal Trident II D5 milik Angkatan Laut AS, trik utamanya adalah gas yang mengembang mendorong rudal keluar dari tabung peluncur.

Fase dorongan baru dimulai setelah rudal muncul ke permukaan air.

Detail inilah yang menjelaskan mengapa senjata ini sering disebut sebagai peluncuran bawah air yang 'kering'.

Rudal tidak dinyalakan seperti roket botol di dalam laut, melainkan dikeluarkan terlebih dahulu, dilindungi, dan distabilkan selama detik-detik paling kritis.

Mengapa Tidak Dinyalakan di Dalam Air?

Trident II D5 adalah rudal balistik tiga tahap berbahan bakar padat dengan panduan inersia.

Menurut Angkatan Laut AS, rudal ini memiliki jangkauan 4.000 mil laut dan dapat membawa beberapa hulu ledak.

Alasan mengapa rudal tidak dinyalakan di dalam air adalah karena air laut, tekanan, dan gas buang roket merupakan campuran yang buruk.

Solusi yang lebih bersih adalah menggunakan gas yang mengembang di dalam tabung peluncur untuk memaksa rudal ke atas sebelum urutan roket utama dimulai.

Penjelasan publik sering menggambarkan rudal terbungkus kantong gas saat naik melalui air. Angkatan Laut secara resmi menyatakan bahwa rudal diluncurkan oleh 'tekanan gas yang mengembang' di dalam tabung.

Secara praktis, ini memberi kapal selam cara untuk meluncurkan tanpa mengubah lautan di sekitarnya menjadi ruang pembakaran yang kacau.

Rudal membersihkan kapal selam, menembus permukaan, dan baru memulai fase dorongan.

Skala dan Stabilitas yang Menantang

Masalah stabilitas juga penting.