Di tengah ketidakpastian global yang struktural, peran perbankan nasional bergeser dari institusi komersial menjadi instrumen vital pembangunan.

Pengamat Ekonomi asal Jawa Timur, Hadi Prasetyo, menegaskan bahwa sektor perbankan bukan sekadar entitas yang menghitung angka, melainkan penentu arah transformasi dan distribusi kesejahteraan.

>>> Prabowo Resah Indonesia Belum Lolos Piala Dunia Meski Sukses B50

Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyebut perbankan sebagai "darah" bagi perekonomian nasional. Keberhasilan bank BUMN tidak boleh diukur hanya dari laba bersih tahunan.

"Ukuran hakikinya terletak pada kontribusi dalam memperluas kesempatan berusaha, meretas ketimpangan ekonomi, dan mempercepat pertumbuhan di akar rumput," ujar Hadi kepada Warta Ekonomi di Surabaya, Rabu (80/07/2026).

Fungsi intermediasi perbankan harus dijalankan sebagai amanah ideologis pembangunan. Pemerintah memperkuat likuiditas perbankan untuk menggerakkan sektor riil dan memosisikan perbankan sebagai lokomotif investasi nasional.

Reposisi Perbankan: Dari Intermediasi Pasif ke Kemitraan Strategis UMKM

Menurut Hadi, menempatkan UMKM sebagai sekadar "objek bantuan" adalah kekeliruan fatal. UMKM adalah fondasi struktural ekonomi Indonesia, penopang utama PDB, dan penyerap terbesar tenaga kerja.

Perbankan wajib bermutasi menjadi strategic partner yang mendampingi pelaku usaha kecil untuk naik kelas. Transformasi ini menuntut tiga pilar manifestasi nyata.

>>> Apple Gandeng Broadcom, Perluas Produksi Chip di AS dengan Investasi US$30 Miliar

Pertama, menyediakan akses pembiayaan yang murah, mudah, dan realistis melalui optimalisasi KUR. Kedua, mengawal digitalisasi UMKM agar memiliki daya saing.

Ketiga, memfasilitasi integrasi pasar hingga rantai pasok ekspor.

Kebijakan ini harus menjangkau segmen new to bank, yaitu mereka yang selama ini terpinggirkan dari akses formal perbankan dan terjebak di jejaring keuangan informal.

BNI, sebagai bank negara pertama yang lahir dari rahim kemerdekaan, kini berusia 80 tahun. Komitmen historisnya tecermin dalam agregat penyaluran KUR yang nyata di awal tahun ini.

Namun, di balik angka capaian impresif, potret kesulitan UMKM dalam mengakses KUR masih menjadi catatan tebal. Hambatan utamanya bersifat struktural dan kultural.

>>> Selangor Targetkan Okupansi Wisatawan Medis Asal Indonesia Naik 5 Persen

Hadi menyebut tiga hambatan utama: persyaratan administrasi yang rumit, keterbatasan literasi keuangan, dan distribusi layanan perbankan yang belum merata hingga pelosok desa.