Kuasa hukum keluarga korban, Risang Bima Wijaya, mengatakan pihaknya sudah mengantongi nama terduga pelaku dengan inisial E.

Informasi itu diketahui melalui unggahan media sosial terakhir korban dan terduga pelaku.

Sosok E juga diyakini sebagai pria misterius yang terakhir kali bersama korban, sebagaimana terekam dalam kamera CCTV di area Bandara Internasional Juanda Surabaya.

Keduanya diketahui bepergian bersama ke daerah Malang dan Batu beberapa hari sebelum mayat RYS ditemukan dalam keadaan kaku di dalam mobil dinasnya di parkiran Terminal 1 Bandara Juanda.

Risang mengungkapkan, jejak keberadaan terduga pelaku sempat terlacak di wilayah Jawa Tengah, meskipun hingga kini yang bersangkutan diduga terus berpindah-pindah lokasi dan tidak menetap di alamat resminya di kawasan Malang.

"Iya, sempat terlacak di wilayah Jawa Tengah. Tapi ini berpindah-pindah.

Pelaku ini kan alamatnya kan tidak ada itu di alamat rumahnya. Namanya Erlan," ungkapnya.

Dari hasil penelusuran, Risang menyebutkan E merupakan pria asal Sulawesi Selatan yang pernah bekerja di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), lembaga yang telah dibubarkan pada 2004.

Meskipun alamat telah teridentifikasi, Risang menegaskan E kerap berpindah domisili antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. "Nah, dia itu pindah-pindah, Jatim, Jateng, loncat-loncat itu," katanya.

Risang menambahkan, E juga diduga memiliki rekam jejak keterlibatan dalam tindak penipuan dengan berbagai modus, mulai dari penipuan properti, proyek, hingga jual-beli.

"Penipuan semua, ya properti, proyek, jual-beli. Kalau korban ini ya mungkin ya penipuan modusnya love scam itu," ucapnya.

Terkait asal-usul perkenalan antara korban dan terduga pelaku, Risang menduga hal itu bisa saja berkedok pencarian proyek.

Namun, ia menekankan penangkapan terhadap terduga pelaku menjadi kunci untuk mengungkap kronologi awal hubungan keduanya.

>>> HP Murah Makin Langka Akibat Lonjakan Biaya Memori untuk AI

"Nah, harus ditangkap dulu E-nya itu. Karena keluarga enggak kenal itu dengan E," katanya.