5. Lamine Yamal (Spanyol)

Di usianya yang masih muda, Lamine Yamal menjadi nyawa kreativitas lini serang Spanyol. Kemampuan dribel satu lawan satu di sisi sayap kanan menjadi senjata andalan.

Spanyol dominan dalam penguasaan bola, namun sering kesulitan dalam penyelesaian akhir. Publik berharap Yamal mampu meningkatkan insting membunuhnya.

6. Jeremy Doku (Belgia)

Jeremy Doku merupakan kartu as yang bisa menjadi hulu ledak mematikan bagi Belgia. Meski menit bermainnya terbatas, statusnya sebagai pembawa bola terbaik membuatnya diwaspadai.

Kecepatan eksplosif dan tusukan vertikalnya diprediksi merepotkan lini belakang Spanyol. Doku berpotensi menjadi pembeda jika pertandingan berjalan alot.

7. Lisandro Martínez (Argentina)

Di tengah sorotan pada Lionel Messi, peran Lisandro Martínez di jantung pertahanan Argentina tidak boleh diabaikan. Gaya bermain agresif dan lugas menjadi garansi keamanan.

Bek Manchester United ini memiliki akurasi umpan ke depan yang baik untuk memulai transisi. Kehadirannya krusial untuk memutus serangan balik Swiss dan memberi kenyamanan bagi Messi.

8. Gregor Kobel (Swiss)

Lolosnya Swiss ke perempat final merupakan buah ketangguhan Gregor Kobel di bawah mistar. Kiper Borussia Dortmund ini mencatat penyelamatan di atas rata-rata tertinggi sepanjang turnamen.

>>> Akhir Sebuah Era: Skuad Inti Piala Dunia 2026 Tertua Sepanjang Sejarah

Ketahanan mental Kobel teruji saat menggagalkan tendangan penalti krusial di babak 16 besar. Swiss akan kembali bergantung pada refleks magisnya untuk menahan gempuran Argentina.