Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) menilai ketidaksesuaian antara kebutuhan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) industri dengan volume pasokan hulu tidak hanya disebabkan oleh satu faktor.

Sejumlah persoalan ikut memengaruhi, mulai dari keterbatasan pasokan hulu, kontrak gas jangka panjang, hingga infrastruktur pipa dan LNG.

>>> FIFA Disorot usai Trump Telepon Gianni Infantino, Belgia Langsung Protes

“Faktor penyebabnya antara lain minimnya pasokan hulu, kontrak penjualan gas yang sudah berjalan dan rata-rata jangka panjang, bisa juga sebab infrastruktur pipa dan LNG yang kurang,” ujar Direktur Eksekutif Pushep, Bisman Bakhtiar, dalam keterangannya, Senin (6/7).

Pernyataan itu disampaikan Bisman merespons adanya selisih antara kebutuhan HGBT tujuh sektor industri dan volume pasokan hulu yang tercantum dalam Kepmen ESDM Nomor 250.

K/MG. 01/MEM.

M/2026.

Berdasarkan penghitungan atas data dalam beleid tersebut, total kebutuhan HGBT untuk tujuh sektor industri mencapai 633,376 BBTUD.

Sementara itu, volume pasokan hulu yang tercatat sekitar 472,546 BBTUD.

Dengan demikian, terdapat selisih sekitar 160,83 BBTUD antara kebutuhan pengguna HGBT dan volume pasokan hulu.

Selisih tersebut membuat implementasi HGBT tidak hanya bergantung pada penetapan harga gas murah, tetapi juga pada kesiapan volume dan penyaluran gas kepada industri penerima.

Tantangan Sinkronisasi Hulu-Hilir

Bisman menilai selisih antara kebutuhan industri dan volume pasokan hulu tersebut dapat dibaca sebagai tantangan sinkronisasi antara sisi hulu dan hilir dalam implementasi HGBT.

“Selisih tersebut intinya kekurangan atau pasokan minus, jadi bisa dibaca sebagai tantangan sinkronisasi hulu dan hilir dalam implementasi HGBT,” kata Bisman.

Menurut dia, persoalan HGBT tidak cukup dilihat sebagai isu kekurangan gas semata.