Perkembangan mesin pencari dan kecerdasan buatan membuat strategi optimasi digital ikut berubah. Jika sebelumnya pelaku bisnis hanya berfokus pada SEO, kini muncul dua pendekatan lain yang semakin banyak digunakan, yakni Answer Engine Optimization (AEO) dan Generative Engine Optimization (GEO).

Ketiganya sama-sama bertujuan meningkatkan visibilitas sebuah brand di internet. Namun, cara kerja, sasaran, hingga indikator keberhasilannya tidak sama. Karena itu, penerapan strategi perlu disesuaikan dengan tujuan bisnis yang ingin dicapai.

Dalam praktiknya, Search Agency menyediakan layanan SEO, AEO, dan GEO dengan pendekatan yang disesuaikan terhadap kebutuhan setiap brand agar hasil optimasi lebih relevan.

>>> Jutaan Warga Iran Hadiri Pemakaman Khamenei, Trump Terkejut

Apa Perbedaan GEO dan AEO?

Meski sering dibahas bersamaan, GEO dan AEO memiliki fokus yang berbeda. Berikut sejumlah perbedaan mendasar yang perlu dipahami.

1. Tujuan Optimasi

AEO dirancang agar sebuah halaman dipilih sebagai jawaban utama atas pertanyaan pengguna di mesin pencari. Bentuk tampilannya dapat berupa featured snippet, AI Overview, maupun respons singkat pada layanan pencarian.

Berbeda dengan itu, GEO berupaya meningkatkan peluang sebuah brand dikutip atau disebut ketika asisten AI menjawab pertanyaan secara lebih panjang dalam format percakapan.

Sementara SEO tetap berorientasi membawa halaman website masuk ke daftar hasil pencarian organik.

2. Platform yang Menjadi Sasaran

Strategi AEO lebih banyak diarahkan ke ekosistem Google, termasuk AI Overviews, featured snippet, dan layanan pencarian berbasis suara.

Adapun GEO difokuskan pada platform AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, dan Microsoft Copilot yang menyusun jawaban dalam bentuk percakapan.

3. Cara Menyusun Konten

Pada AEO, konten biasanya dibuat langsung menjawab pertanyaan pengguna sejak bagian awal. Penyajiannya ringkas, jelas, dan sering menggunakan format seperti daftar maupun tabel agar mudah dipahami mesin pencari.