Trump Sebut Komunisme Pecundang dalam Pidato Fourth of July
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyinggung komunisme sebagai ancaman terbesar bagi negaranya dalam pidato perayaan Hari Kemerdekaan AS ke-250 atau Fourth of July, Sabtu (4/7).
Dalam acara 'Salute to America 250' di National Mall, Washington DC, Trump menyebut ancaman komunisme kini muncul dari para pendatang baru yang menganut ideologi bertentangan dengan cara hidup Amerika.
>>> OJK Buka Suara soal PHK Massal KB Bank
Trump menegaskan pemerintahannya tidak akan membiarkan paham tersebut meluas. "Amerika tidak akan pernah menjadi negara komunis.
Tidak akan terjadi. Komunisme adalah pecundang (loser) dan akan selalu begitu," ujarnya.
"Sistem komunis adalah kebalikan dari sistem Amerika dan sistem komunis tidak pernah berhasil," lanjut Trump.
Menurut Trump, para pejuang AS telah melawan komunisme di medan perang di seluruh dunia. Ia mengatakan hal itu dilakukan agar komunisme tidak muncul di Amerika Serikat.
Trump mengibaratkan komunisme seperti kanker yang harus dipotong. "Ini seperti kanker.
>>> Chase Briscoe Menangkan Balapan NASCAR Cup di Chicagoland Speedway
Anda harus memotongnya. Anda harus memotongnya dengan cepat," katanya.
Pidato tersebut menjadi pernyataan paling keras Trump soal komunisme dalam beberapa pekan terakhir. Ia kerap menyebut kemenangan kandidat progresif Partai Demokrat sebagai ancaman serius.
Trump mengaitkan isu itu dengan pemilu paruh waktu November mendatang. Menurutnya, Partai Republik hanya akan kalah jika gagal mempertahankan dukungan pemilih.
Retorika Trump menguat setelah empat kandidat progresif, termasuk tiga politikus beraliran sosialis demokrat, memenangi pemilihan pendahuluan Demokrat di New York City dan Colorado.
Kandidat progresif juga menang di Kentucky, New Jersey, Ohio, Pennsylvania, dan Texas. Pekan lalu, Trump menyebut kemenangan itu sebagai ancaman terbesar bagi AS sejak negara ini berdiri.
>>> Babak I: Bellingham 2 Gol, Inggris Unggul Tipis 2-1 atas Meksiko
Pidato tersebut disampaikan saat warga AS masih menghadapi tekanan inflasi dan harga bahan bakar tinggi di tengah konflik AS-Israel dengan Iran.
Update Terbaru
Pitcher Boston Red Sox Ranger Suarez Cedera, Tinggalkan Lapangan
Senin / 06-07-2026, 10:53 WIB
'Bang Jago' Pemukul Pengendara Motor di Jaksel Ditangkap Polisi
Senin / 06-07-2026, 10:53 WIB
Penyebab Chat WhatsApp Kerap Tak Masuk Jika Aplikasi Tidak Dibuka
Senin / 06-07-2026, 10:53 WIB
Argentina ke 16 Besar Piala Dunia Usai Kalahkan Cape Verde Lewat Extra Time
Senin / 06-07-2026, 10:49 WIB
Denny Hamlin Pertahankan Puncak Klasemen NASCAR Usai Balapan Chicagoland
Senin / 06-07-2026, 10:49 WIB
Swiss Hadapi Kolombia di Piala Dunia 2026
Senin / 06-07-2026, 10:49 WIB
Flowhomme Perkuat Kolaborasi dengan Media di Indonesia
Senin / 06-07-2026, 10:49 WIB
Penjualan Daihatsu Naik 27 Persen pada Juni 2026
Senin / 06-07-2026, 10:49 WIB
Delta Air Lines Dihantam Kembang Api 4th of July AS saat Mau Mendarat
Senin / 06-07-2026, 10:49 WIB
'Hidupkan Kreatifmu', Faber-Castell Sambut Tahun Ajaran Baru dengan Produk Inovatif
Senin / 06-07-2026, 10:48 WIB
Gunrom PDIP: Rencana Blusukan Jokowi di Jateng Cermin Kesombongan PSI
Senin / 06-07-2026, 10:48 WIB
Hasil Piala Dunia 2026: 10 Pemain Inggris Kalahkan Meksiko 3-2
Senin / 06-07-2026, 10:48 WIB
Bulog Kawal Gerakan Tanam Padi Serentak di Cetak Sawah Merauke
Senin / 06-07-2026, 10:43 WIB
Polisi Bongkar Pabrik Rumahan Vape Ganja, 3 WNA Diringkus
Senin / 06-07-2026, 10:42 WIB







