Saluran komunikasi yang paling sering dimanfaatkan pelaku kejahatan siber adalah panggilan telepon dengan persentase 61 persen, diikuti SMS mencurigakan sebesar 50 persen dan aplikasi pesan instan sebesar 49 persen.

>>> BPDP Buka Peluang Bisnis Hilirisasi Perkebunan di IFBC 2026

Meski tingkat ancaman tinggi, kesiapan masyarakat menghadapi serangan siber masih rendah.

Hanya 37 persen responden yang mengaku mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi ancaman keamanan digital.

Pendiri dan CEO Blackbox Research, David Black, mengatakan penipuan kini telah menjadi tantangan yang sulit dihindari dalam ekonomi digital kawasan Asia Pasifik.

“Penipuan telah menjadi hambatan yang tak terhindarkan dalam ekonomi digital kawasan ini.

Namun, meskipun sebagian besar masyarakat menghadapi ancaman penipuan, terdapat kesenjangan yang mencolok antara kekhawatiran publik dan tindakan pribadi, karena sebagian besar konsumen mengakui bahwa langkah-langkah keamanan yang mereka terapkan sendiri gagal mengikuti perkembangan ancaman yang ada,” ujarnya.

Selain kerugian finansial, dampak psikologis juga menjadi perhatian.

Sebanyak 96 persen responden di Indonesia mengaku mengalami tekanan emosional akibat insiden siber, baik serangan tersebut berhasil maupun berhasil digagalkan.

Di sisi lain, tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap institusi masih relatif tinggi.

Sebanyak 84 persen responden percaya bahwa pemerintah, perbankan, operator telekomunikasi, maupun penyedia layanan digital mampu melindungi data pribadi mereka.

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa hampir separuh responden memandang keamanan siber sebagai tanggung jawab bersama antara pemerintah, sektor perbankan, operator telekomunikasi, perusahaan teknologi, dan masyarakat.

Hanya 14 persen yang menilai individu harus menjadi pihak utama dalam melindungi diri dari ancaman siber.

Seiring meningkatnya kesadaran tersebut, permintaan terhadap solusi perlindungan siber juga terus bertambah.