Kandungan aluminium yang melebihi ambang batas pada sarang burung walet menjadi salah satu penyebab sejumlah eksportir Indonesia dikenai penghentian sementara oleh China.

Namun, pelaku usaha menegaskan kondisi itu tidak selalu akibat praktik curang.

>>> Fakta Baru Kasus Sekap YTR: Taufik Hidayat Kencan dengan Wanita Lain Saat Korban Dikurung

Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI), Boedi Mranata, mengatakan kandungan aluminium tinggi juga bisa terbentuk secara alami dari lingkungan tempat sarang menempel.

"Kalau dulu itu pasti ada yang nakal masukin tawas segala macam, tapi sekarang sudah enggak.

Memang ada dari alam sendiri aluminium sudah terbentuk di sarang burung, karena mineralnya," kata Boedi di kantor Badan Karantina Indonesia (Barantin), Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Menurut Boedi, salah satu sumber aluminium berasal dari dinding bangunan tempat burung walet membuat sarang. Material semen pada dinding mengandung unsur aluminium sehingga dapat memengaruhi kandungan sarang.

"Jadi nempel ke tembok, tembok kan mengandung semen, semen itu sebagian komposisinya aluminium," ujarnya.

>>> APBN 2027 Diminta Bahas Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan, Ini Alasannya

Meski demikian, Boedi mengatakan pelaku usaha kini semakin berhati-hati dalam budidaya dan pengolahan sarang walet agar memenuhi syarat ekspor, khususnya ke China.

Salah satu langkahnya adalah menghindari sarang yang menempel langsung pada dinding bangunan. "Tapi kita sudah aware.

Sekarang lebih hati-hati, jangan ada sarang burung yang nempel ke tembok," kata Boedi.

Sebelumnya, Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengungkapkan kandungan aluminium di atas ambang batas 100 ppm menjadi salah satu persoalan yang disoroti otoritas China terhadap produk sarang walet asal Indonesia.

>>> Rekomendasi Action Camera dan Pocket Gimbal Terbaik 2026

Pemerintah kini memperkuat sistem quality control dan membenahi regulasi agar hambatan ekspor dapat segera diselesaikan.