Selama ini, anggapan bahwa hewan yang ditelan pasti mati mulai dipertanyakan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa spesies justru mampu bertahan dan meloloskan diri dari dalam tubuh predator.

Studi yang diterbitkan pada musim semi 2026 oleh Shinji Sugiura, ekolog dari Universitas Kobe, Jepang, dan Brian Gall, zoolog dari Hanover College, Indiana, mendokumentasikan perilaku bertahan hidup yang mengejutkan.

>>> Visa Korea Selatan Resmi Naik Mulai 1 Juli, Cek Harga Barunya

Sugiura memberi makan ikan lele Silurus asotus dengan delapan spesies kumbang air di akuarium terkontrol. Hasilnya, beberapa kumbang dimuntahkan hidup-hidup dalam hitungan detik.

Kumbang yang lebih kecil memiliki peluang bertahan lebih besar.

Untuk menguji penyebabnya, Sugiura mengulangi eksperimen dengan kumbang Regimbartia attenuata, tetapi kali ini kakinya dilepas sebelum diberikan ke ikan.

Tanpa kaki, tingkat kelangsungan hidup kumbang turun dari 70 persen menjadi hanya 15 persen.

Kaki-kaki tersebut ternyata berperan penting untuk mencengkeram atau meronta di dalam mulut predator, memaksanya memuntahkan mangsa.

Kumbang yang Kabur Lewat Saluran Pencernaan

Kumbang Regimbartia attenuata juga mampu bertahan saat ditelan katak.

Diuji pada lima spesies katak berbeda, kumbang ini aktif bergerak melalui saluran pencernaan dan keluar hidup-hidup dari kloaka.

Beberapa faktor membantu kumbang ini: ukuran kecil, tubuh fleksibel, gerakan licin, serta ketahanan terhadap cairan pencernaan.

Kumbang bombardir (Brachinus crepitans) memiliki taktik lebih ekstrem.

>>> Foundation Stick Merek Apa yang Bagus? Ini 3 Pilihan yang Dipuji Pengguna

Saat ditelan kodok, ia melepaskan semburan kimia bersuhu 100 derajat Celsius dari dalam tubuh predator, memicu regurgitasi segera.

Meskipun keluar berlumur muntahan, kumbang tersebut tetap hidup. Perilaku ini memaksa para ilmuwan memikirkan ulang arti 'dimakan'.