Bintang-bintang jarang memulai hidup sendirian. Mereka lahir di dalam awan molekul raksasa yang terdiri dari hidrogen, debu, dan gas dingin.

Gravitasi memadatkan daerah padat yang disebut nebula hingga memicu fusi nuklir. Hasilnya, lahirlah bintang.

>>> Fosil Mikroba Berusia 180 Juta Tahun Ditemukan di Kedalaman Tanpa Cahaya

Namun, awan raksasa ini biasanya melahirkan lebih dari satu bintang. Mereka terfragmentasi menjadi kelompok yang berisi puluhan, ratusan, bahkan ribuan bintang—dikenal sebagai gugus bintang.

Gugus terbuka seperti Pleiades di rasi Taurus bisa dilihat dengan mata telanjang. Bintang di dalamnya relatif muda, hanya beberapa ratus juta tahun.

Seiring waktu, bintang-bintang itu berpisah dan gugusnya menguap.

Laboratorium Evolusi Bintang

Bintang dalam satu gugus lahir pada waktu yang sama dari awan gas yang sama.

Ini menjadi laboratorium alami untuk membandingkan pengaruh massa, suhu, dan radiasi terhadap perjalanan hidup bintang.

Sayangnya, masa awal bintang sulit diamati karena terbungkus selubung debu dan gas tebal yang menghalangi cahaya tampak.

Sebuah studi di Nature Astronomy berhasil membuka babak tersembunyi ini.

Dengan menggabungkan inframerah James Webb dan cahaya tampak Hubble, peneliti menganalisis hampir 9.000 gugus bintang muda di empat galaksi: M51, M83, NGC 628, dan NGC 4449.

Tujuannya melacak evolusi gugus saat mereka muncul dari awan kelahirannya.

>>> Demi Jadi Imam Masjid, Pemain Maroko Mau Pensiun usai Piala Dunia

James Webb dan Hubble: Detektif Kosmik

James Webb dengan inframerah sensitifnya mampu melihat gugus yang masih tersembunyi debu. Hubble mengamati gugus yang sudah membersihkan gas di sekitarnya.

Perbandingan kedua pandangan ini memungkinkan astronom menyusun tahapan kelahiran gugus bintang.