Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah penyandang diabetes terbesar di dunia.

International Diabetes Federation (IDF) mencatat ada sekitar 20,4 juta orang dewasa hidup dengan diabetes pada 2024.

>>> Ramalan Zodiak Juli 2026: Leo, Taurus, dan Libra Paling Beruntung

Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia. IDF juga memperkirakan jumlah ini akan meningkat menjadi sekitar 28,6 juta pada 2050.

Selain itu, hampir 15 juta orang dewasa di Indonesia belum terdiagnosis diabetes. Kondisi ini membuat deteksi dini dan keberlanjutan terapi menjadi sangat penting.

Terapi Baru untuk Diabetes Tipe 2

Di tengah tingginya beban diabetes, kini tersedia tambahan pilihan terapi bagi pasien diabetes melitus tipe 2.

Daewoong Pharmaceutical Indonesia meluncurkan enavogliflozin 0,3 mg, obat golongan SGLT2 inhibitor yang dikembangkan secara mandiri.

Peluncuran dilakukan dalam rangkaian Forum Endokrinologi Nasional Ke-14 dan Pertemuan Ilmiah Tahunan PERKENI 2026 di Bandung.

Diskusi juga membahas pentingnya mempertimbangkan risiko metabolik, kardiovaskular, dan ginjal dalam tata laksana diabetes.

Ketua Umum PERKENI, Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp. PD, K-EMD, mengatakan kehadiran terapi baru ini menambah pilihan penanganan bagi pasien diabetes di Indonesia.

>>> 7 Sepatu Lari Diskon di Foot Locker, Potongan Harga hingga 30 Persen

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, dan industri.

Prof. Yong-ho Lee dari Yonsei University Severance Hospital, Korea Selatan, memaparkan hasil penelitian mengenai terapi tersebut pada pasien diabetes tipe 2 di Asia.

Ia menjelaskan bahwa terapi ini didukung bukti klinis yang diperoleh khusus pada pasien Asia.

Dalam menangani pasien Asia, pemilihan terapi tidak hanya perlu mempertimbangkan efektivitas menurunkan glukosa darah, tetapi juga dampak terhadap parameter metabolik seperti berat badan dan resistensi insulin.

Kolaborasi Indonesia-Korea Selatan

Dalam rangkaian kegiatan yang sama, Korean Diabetes Association (KDA) dan PERKENI menandatangani nota kesepahaman (MoU).

Kerja sama ini bertujuan memperkuat pertukaran akademik, penelitian bersama, dan pendidikan medis di bidang diabetes.

Chairman KDA, Prof. Sung-rae Kim, mengatakan MoU itu menghubungkan dua komunitas medis yang memiliki tujuan sama, yaitu meningkatkan perawatan diabetes melalui penelitian ilmiah dan pendidikan.

>>> Red Magic Luncurkan Gaming Tablet 5 Pro dengan Layar OLED 185Hz dan Snapdragon 8 Elite Gen 5

CEO Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park, menambahkan bahwa terapi baru dan kerja sama ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan Indonesia, khususnya dalam penanganan penyakit kronis.