Louis Vuitton mendapat kritik tajam setelah menghadirkan air terjun buatan setinggi delapan meter sebagai latar peragaan busana koleksi Spring/Summer 2027 di Paris Fashion Week.

Instalasi megah itu dibangun di atas runway berlapis pasir di area luar Cité Universitaire, kompleks hunian mahasiswa.

>>> CASIO Ajak Pencinta Jam Tangan Telusuri Sejarah Inovasi Lewat 'The Journey of Invention'

Acara digelar saat Paris dan sejumlah wilayah Prancis tengah dilanda gelombang panas ekstrem dengan suhu menembus lebih dari 40 derajat Celsius.

Banyak pihak mempertanyakan penggunaan ruang publik untuk kepentingan komersial di tengah krisis iklim.

Wakil Wali Kota Paris yang membidangi kehidupan mahasiswa, Melody Tonolli, menilai instalasi tersebut mengirimkan pesan yang kurang tepat.

"Saya memahami reaksi masyarakat terhadap privatisasi ruang publik yang kurang dijelaskan, disertai pembatasan akses.

Apalagi di tengah gelombang panas, tampilan seperti ini menyampaikan pesan yang sangat disayangkan," kata Melody.

Bantahan LVMH soal Penggunaan Air

Menanggapi kritik, juru bicara LVMH, induk perusahaan Louis Vuitton, menegaskan bahwa air yang digunakan tidak terbuang sia-sia.

"Air yang digunakan untuk menciptakan efek ombak seluruhnya berasal dari jaringan air kota Paris.

>>> AS Dorong Utusan Baru untuk Bosnia di Tengah Ketegangan soal Pipa Gas

Air tersebut dipompa ke lokasi, lalu dialirkan kembali ke sistem saluran pembuangan Paris melalui sistem sirkulasi tertutup," ujar juru bicara LVMH kepada Reuters.

LVMH juga menjelaskan bahwa pasir untuk runway akan dimanfaatkan kembali untuk lapangan voli pantai milik Cité Universitaire dan didaur ulang oleh mitra pengelola limbah.

Direktur Komunikasi Cité Universitaire Jerome Duplan membenarkan penggunaan sistem sirkulasi air tertutup selama instalasi berlangsung.

Ia menambahkan, dukungan sponsor dari Louis Vuitton membantu pendanaan fasilitas di tengah berkurangnya anggaran publik.

Meski begitu, kontroversi belum mereda.

Sejumlah penghuni Cité Universitaire merasa dirugikan karena tidak dapat mengakses beberapa fasilitas dan harus mengubah rutinitas sehari-hari selama acara.

Kontroversi ini terjadi di tengah kondisi cuaca ekstrem. Paris mencatat suhu tertinggi 40,9 derajat Celsius, rekor baru untuk bulan Juni.

>>> Ledakan Paket Bom Lukai Oligarki Ukraina di Monako

Sejak 18 Juni, sedikitnya 55 orang dilaporkan meninggal akibat tenggelam saat berusaha mendinginkan diri dari gelombang panas.