Para diplomat dari berbagai negara dijadwalkan bertemu di Sarajevo pada Selasa (24/6) untuk menyelesaikan perselisihan serius antara Amerika Serikat dan Eropa mengenai penunjukan seorang utusan tinggi baru untuk Bosnia dan Herzegovina.

Jabatan ini memiliki kekuasaan signifikan yang dapat memengaruhi masa depan Bosnia pascaperang.

>>> Ledakan Paket Bom Lukai Oligarki Ukraina di Monako

Perselisihan berpusat pada siapa yang akan menjadi utusan tinggi berikutnya bagi komunitas internasional. Pemerintahan Trump secara agresif mendorong agenda bisnis yang berpotensi mengganggu keseimbangan politik pascaperang di Bosnia.

Duta besar dari AS, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Uni Eropa, bersama utusan dari Kanada, Jepang, dan Turki, akan melakukan upaya kedua untuk menyepakati posisi tersebut.

Pertemuan sebelumnya pada awal Juni bubar karena ketegangan.

Latar Belakang Perselisihan

Sebelum pertemuan itu, pemerintahan AS mengejutkan ibu kota Eropa dengan menuntut pemecatan utusan tinggi saat ini, politikus Jerman Christian Schmidt.

Washington dilaporkan mengingkari kesepakatan untuk membiarkan Schmidt tetap menjabat hingga pemilu Oktober demi kontinuitas dan martabat pribadi.

Pada bulan Mei, pejabat AS menuntut kepergian Schmidt segera dan mulai berkampanye secara agresif untuk Antonio Zanardi Landi, seorang diplomat Italia berusia 76 tahun.

Langkah ini membingungkan sebagian besar anggota Dewan Pengarah Dewan Implementasi Perdamaian (PIC) yang akan bertemu pada Selasa.

Landi tidak memiliki pengalaman atau pengetahuan signifikan sebelumnya tentang Bosnia.

Meskipun ia pernah menyatakan kesukaan terhadap Serbia tempat ia pernah bertugas, ia tidak menunjukkan banyak minat pada negara tetangganya itu.

Pejabat Eropa di Sarajevo menduga manuver mendadak Washington terkait dengan prioritas baru AS untuk membuka jalan bagi kontrak pipa gas senilai $1 miliar bernama Southern Interconnection.