Harga minyak dunia melemah 1 persen pada Selasa (30/6) jelang perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Doha, Qatar.

Pasar mencermati prosesnya dan berharap pertemuan tersebut bisa berhasil serta membuka jalan bagi meredanya ketegangan di Timur Tengah.

>>> Angkatan Laut Inggris Tak Akan Punya Kapal Perusak pada 2040, Ini Alasannya

Harga minyak mentah Brent kontrak Agustus yang berakhir pada Selasa turun 75 sen atau 1,03 persen menjadi US$72,40 per barel.

Sementara kontrak Brent September yang lebih aktif diperdagangkan melemah 40 sen atau 0,54 persen menjadi US$73,51 per barel.

Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 47 sen atau 0,66 persen ke level US$70,32 per barel.

Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer mengatakan pasar mulai memperhitungkan peluang hasil positif dari potensi pembicaraan AS-Iran di Doha.

Namun, investor masih berhati-hati karena normalisasi arus pelayaran melalui Selat Hormuz belum benar-benar terlihat.

"Pasar optimistis secara hati-hati, tetapi tetap melakukan lindung nilai sampai ada tanda-tanda nyata deeskalasi," ujar Waterer dikutip Reuters.

>>> Hasil Piala Dunia 2026: Jerman Tersingkir Dramatis usai Kalah Adu Penalti dari Paraguay

Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan para ahli Iran dan Oman akan memulai pembahasan mengenai penataan ulang jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.

Iran juga menyatakan akan berupaya menghalangi kapal yang melintas di luar jalur yang telah ditetapkan.

Meski demikian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan tidak akan ada pertemuan atau negosiasi dengan pihak AS dalam beberapa hari ke depan.

Presiden AS Donald Trump juga belum memastikan apakah pembicaraan di Doha benar-benar akan berlangsung. Menurutnya, pertemuan tersebut bisa menjadi penting, tetapi hasilnya masih harus dilihat.

Ketidakpastian itu menunjukkan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 17 Juni lalu untuk menghentikan perang selama empat bulan.

Konflik tersebut sempat mengganggu arus pasokan minyak global melalui Selat Hormuz.

>>> Nuanu Future Talks: Gastronomy Leaders 2.0 Siap Digelar di Bali

Sementara itu, produsen minyak dan gas di Timur Tengah tetap melanjutkan proses pengiriman meski masih terjadi serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan aksi saling serang antara AS dan Iran dalam beberapa hari terakhir.