>>> Kekhawatiran Ahli soal Rencana Membuang Stasiun Luar Angkasa Internasional ke Laut

Tim Columbia University memecahkan proses ini dengan menganalisis bagaimana CO₂ berinteraksi dengan panjang gelombang inframerah tertentu.

Dengan mencocokkan persamaan teoretis dengan simulasi komputer kompleks dan observasi satelit, mereka menemukan bahwa pita cahaya tertentu berada di zona optimal untuk pendinginan.

Hal ini memungkinkan gas melepaskan panas ke luar angkasa dengan efisiensi maksimum.

Saat emisi industri memompa lebih banyak CO₂ ke atmosfer, zona pendinginan optimal ini meluas, mempercepat penurunan suhu di atas.

Dampak pada Satelit dan Cuaca

Pendinginan di ketinggian ini menciptakan dua masalah berbeda di Bumi. Pertama, udara dingin menyusut.

Saat stratosfer mengerut, atmosfer atas menipis, mengurangi hambatan aerodinamis pada objek di orbit rendah Bumi.

Ini membuat satelit aktif bertahan lebih lama, tetapi juga berarti puing-puing antariksa tetap di orbit alih-alih jatuh dan terbakar dengan aman.

Akibatnya, jumlah puing orbital bertambah dan mengancam tabrakan dengan jaringan komunikasi global.

Kedua, kesenjangan suhu yang melebar antara tanah yang hangat dan langit atas yang dingin mengubah tekanan udara global.

Perubahan ini mengubah jalur jet stream, secara langsung mempengaruhi bagaimana badai dan sistem cuaca bergerak di permukaan.

>>> Cara Cek Jadwal Pencairan Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Juli 2026

Temuan ini menunjukkan bahwa gas rumah kaca tidak hanya memerangkap panas di permukaan, tetapi juga mengubah bentuk atmosfer kita.