Masyarakat Amerika Serikat semakin resah dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Kekhawatiran ini muncul seiring dengan ancaman penggantian tenaga kerja, kenaikan tagihan listrik akibat pusat data, dan dampak lingkungan.

>>> RM BTS Resmi Jadi Duta Warisan Budaya Korea Selatan

Selain itu, aspek ekonomi AI juga menjadi sorotan. Lebih dari US$1 triliun telah digelontorkan ke sektor AI, namun hasil yang didapat belum sebanding.

Jajak pendapat terbaru dari Haystack News mengungkapkan bahwa mayoritas responden khawatir terhadap gelembung AI.

Sebanyak 55 persen dari 4.100 responden menyatakan "sangat khawatir" tentang gelembung di industri AI.

Tambahan 14,5 persen responden mengatakan "agak khawatir," sementara hanya 9,4 persen yang "tidak terlalu khawatir."

Para analis keuangan telah lama memperingatkan bahwa gelembung AI bisa berdampak buruk bagi Wall Street dan industri teknologi.

>>> Drakor Dream to You Rilis Poster Baru, Hwang In Yeop dan Hyeri Pelukan Mesra

Ketimpangan antara dana yang dikeluarkan dan pendapatan yang dihasilkan semakin besar, sehingga berpotensi memicu krisis ekonomi.

Kekhawatiran ini sempat terlihat pada Selasa lalu, ketika aksi jual besar-besaran di pasar saham menghapus hampir US$1 triliun nilai pasar.

Saham perusahaan berbasis AI seperti Amazon, Nvidia, Tesla, Alphabet, dan Intel ikut terpuruk.

Bahkan saham SpaceX milik Elon Musk sempat turun di bawah harga IPO-nya sebesar US$150. Belum jelas apakah saham teknologi akan terus merosot dalam jangka pendek.

>>> Server Minecraft Down 29 Juni 2026, Ini Penyebab dan Solusinya

Namun dalam jangka panjang, tanda-tanda ke arah itu sudah mulai terlihat. Publik pun semakin sadar akan risiko yang mengintai.