Anggota Komisi I Lainnya Juga Minta Evaluasi

Terpisah, Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (Purn. ) TB Hasanuddin meminta pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan latsarmil tersebut.

Menurutnya, pelatihan manajemen koperasi harus tetap dilanjutkan, namun pendekatan militer yang telah menimbulkan korban jiwa perlu dihentikan.

>>> Indonesia Dihentikan Thailand di Perempat Final Kejuaraan Asia Junior

TB Hasanuddin menilai tugas utama calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih adalah mengelola koperasi secara profesional, mengembangkan usaha, memperkuat tata kelola, dan memberdayakan ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, materi pelatihan seharusnya lebih berfokus pada kompetensi manajerial, kepemimpinan, kewirausahaan, akuntansi, serta pengelolaan koperasi, bukan latihan fisik bergaya militer yang berisiko tinggi.

"Pelatihan manajemen koperasi harus tetap berjalan karena sangat dibutuhkan.

Namun latihan dasar kemiliteran yang justru merenggut nyawa peserta sudah saatnya dihentikan dan diganti dengan metode pembinaan yang lebih relevan dengan tugas mereka," kata TB Hasanuddin.

Kemhan sebelumnya menyatakan sebanyak lima orang peserta SPPI Koperasi Merah Putih dan Kampung Nelayan meninggal dunia saat mengikuti pendidikan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSD) Kemhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia menyampaikan duka cita dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu pekan lalu.

TNI juga mengakui bahwa dalam latsarmil, pihaknya memberlakukan sanksi berupa hukuman fisik kepada peserta jika kedapatan melanggar peraturan, misalnya terlambat apel pagi.

"Contoh saat apel pagi, mereka terlambat mungkin karena ketiduran dan sebagainya, kita berikan hukuman push up 10 atau 15 kali," kata Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak Letkol (Mar) Agus Mutaqin, Kamis (25/6).

Agus menjelaskan hukuman fisik itu diberlakukan agar peserta memiliki jiwa disiplin tinggi dan taat peraturan.

Terkait kematian lima anggota SPPI, Kemhan menyatakan akan mengevaluasi penyelenggaraan pendidikan agar peserta dapat mengikuti pelatihan secara aman.

>>> Isak Tangis Kerabat Pecah saat Misa Pemakaman Dokter Icha

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan seluruh peserta sebelumnya telah melalui pemeriksaan kesehatan seperti laboratorium darah, urin, tes kehamilan, rontgen thorax, EKG, USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur, dan kesehatan jiwa.