Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Bahrain dan Kuwait pada Minggu, sebagai respons atas serangan militer baru AS di selatan Iran, demikian laporan The Guardian.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas serangan balasan yang menargetkan negara-negara yang menjadi tuan rumah infrastruktur militer AS.

>>> Cara Karyawan Mengatasi Rust-Out dan Kebosanan di Tempat Kerja

Kuwait berhasil mencegat dua rudal balistik tanpa menimbulkan korban jiwa, sementara Bahrain melaporkan kerusakan pada sebuah bangunan tempat tinggal di dekat bandara internasionalnya.

IRGC memperingatkan bahwa tindakan AS akan mengganggu upaya diplomatik untuk mempertahankan gencatan senjata yang rapuh.

"Biarkan musuh tahu bahwa melanggar gencatan senjata ... akan menyebabkan penghentian total proses yang sedang berlangsung," demikian pernyataan IRGC.

Komando angkatan laut IRGC juga memperingatkan tentang kehadiran pasukan AS di Timur Tengah, dengan mengatakan mereka akan "mengalami neraka dalam beberapa hari mendatang".

Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras tentang masa depan Republik Islam jika negosiasi gagal total.

"Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!" kata Trump, seraya menambahkan bahwa pembicaraan diplomatik dapat ditinggalkan demi intervensi militer langsung AS.

Teheran sebelumnya memperingatkan bahwa campur tangan asing di jalur maritim akan mengakibatkan penutupan berkepanjangan jalur pengiriman energi vital tersebut.

>>> Kumpulan Livery Es Truck Simulator ID Terbaru 2026, Bikin Tampilan Truk Makin Keren

Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa serangan udaranya menargetkan infrastruktur militer Iran, termasuk lokasi pengawasan, penyimpanan drone, dan fasilitas penambangan, untuk melindungi jalur pelayaran komersial.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan klaim Teheran atas jalur air internasional tersebut selama kunjungan diplomatik resmi ke Irak.