Profesor pemasaran Concordia University, Gad Saad, mengumumkan pada 18 Juni 2026 bahwa ia meninggalkan Kanada karena eskalasi antisemitisme.

Ia juga mengkritik kebijakan pajak eksit yang memberatkan secara finansial.

>>> Alex Freeman, Bintang Baru Timnas AS yang Lahir dari Garis Atletik

Saad, penulis buku Suicidal Empathy, menyatakan bahwa regulasi fiskal dan kebijakan imigrasi Kanada membuat negara itu tidak layak untuk masa pensiunnya dan tidak aman bagi keluarganya yang Yahudi.

Data Public Safety Canada menunjukkan peningkatan 75 persen kejahatan kebencian bermotif agama dari 2022 ke 2023, dengan mayoritas menargetkan komunitas Yahudi.

Beban Pajak Eksit

Dalam pernyataannya, Saad mengaku terkejut setelah mengetahui besarnya pajak eksit yang harus ia bayar untuk meninggalkan Quebec dan Kanada.

Ia menyebutnya sebagai pencurian uang hasil jerih payah.

Pengacara pajak David Rotfleisch menjelaskan bahwa pajak eksit adalah deemed disposition berdasarkan Income Tax Act saat seseorang menjadi non-residen.

Kebijakan ini sudah ada sejak lama.

Pajak tersebut mengenakan akumulasi apresiasi aset selama masa residensi. Tujuannya agar pemerintah mendapat bagian sebelum individu berhenti membayar pajak domestik.

Kim Moody, pendiri Moodys Private Client, menambahkan bahwa kebijakan ini memastikan Kanada mendapatkan bagiannya dari mereka yang telah menikmati ekonomi dan rezim pajaknya.

Aset yang Terkena Dampak

Properti real estat pribadi dan rekening pensiun terdaftar dikecualikan dari pengumpulan segera. Namun, portofolio saham dan mata uang kripto terkena dampak penuh saat relokasi.

>>> Phillies Kalahkan Nationals 10-5 Meski Sanchez Tampil Buruk

Rotfleisch mencontohkan bahwa jika seseorang memiliki portofolio saham atau cryptocurrency, mereka harus membayar pajak saat meninggalkan negara. Hampir semua aset selain real estat terkena pajak eksit.