Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa telah menyebabkan sekitar 1.000 kematian berlebih di Prancis sejak Rabu, 24 Juni 2026.

Suhu yang mencapai lebih dari 40°C membuat layanan darurat dan rumah sakit kewalahan.

>>> Aplikasi Cuan 2026: Cara Bermain Game Merge Buah untuk Dapat Bonus

Data dari Public Health France menunjukkan lonjakan kematian terjadi di wilayah-wilayah yang berada dalam status siaga merah, termasuk Île-de-France, Nouvelle-Aquitaine, Brittany, Centre-Val de Loire, Normandy, dan Pays de la Loire.

Warga lanjut usia menjadi kelompok yang paling terdampak, dengan 85 persen korban berusia 65 tahun ke atas.

"Sejak 24 Juni, sekitar 1.000 kematian tambahan (angka sementara) telah diamati dibandingkan dengan kematian yang tercatat pada bulan-bulan sebelumnya," demikian pernyataan Public Health France.

Lebih dari 30 departemen di Prancis menerapkan status siaga merah selama puncak cuaca ekstrem ini.

Negara tersebut mencatat hari terpanas pada Rabu dengan suhu rata-rata 24 jam mencapai 30°C.

Langkah Tanggap Darurat

Pemerintah Paris menerapkan langkah-langkah keamanan publik pada akhir pekan, termasuk melarang konsumsi alkohol di tempat umum untuk mengurangi panggilan darurat.

>>> Cara Cek PIP Online 2026, Status Penerima Bisa Dilihat Lewat HP

Pawai Pride Month juga ditunda, serta Menara Eiffel dan Museum Louvre ditutup lebih awal.

Meskipun ada peringatan, seorang pria tenggelam di Canal Saint-Martin pada Jumat malam. Wali Kota Paris, Emmanuel Grégoire, menegaskan kembali bahaya berenang di luar area yang diawasi.

Cuaca ekstrem juga merenggut nyawa pemain sepak bola Ligue 2, Kenzo Kies, 21 tahun, yang dilaporkan tenggelam di Sungai Rhône.

Klubnya, Guingamp, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban.

Krisis iklim ini meluas ke negara-negara tetangga. Inggris mencatat hari Juni terpanas pada Jumat dengan suhu 37,3°C di Santon Downham, Suffolk.

>>> Transformasi Layanan Farmasi Jadi Fokus PIT dan Mukernas HISFARSI 2026

Spanyol dan Jerman juga menembus 40°C.