Pada awal 2016, sahabatnya Angga melihat Tio sudah hancur total: duduk dengan tatapan kosong, mengigau, dan air liur menetes.

Maria membawa Tio keluar masuk panti rehabilitasi hingga tiga kali. Pada 2018, Tio dimasukkan ke panti rehab di Puncak, Cianjur.

Ia dijebloskan ke sel jeruji besi 2x2 meter untuk detoksifikasi. Namun, di bulan kesembilan, Tio kabur.

Terlahir Kembali Setelah Koma

Setelah kecelakaan di flyover, Tio melewati masa koma. Angga datang menjenguk dengan membawa donasi Rp20 juta.

Tio berusaha keras mengingat Angga, hingga air matanya tumpah. Hantaman di kepala telah menghapus trauma, dendam, dan perangai buruknya.

Tio terbangun sebagai manusia baru. Ia tak lagi memanggil Angga dengan nama panggilan masa kecil, melainkan 'kamu'.

Di rumah, Maria merasakan perubahan besar. Putranya kini berbicara dengan santun, bahkan meminta ibunya mengetuk pintu sebelum masuk kamar.

Tio kini menghabiskan waktu bersama ibunya, membantu menjual properti. Ia telah menghapus semua kontak lama di ponsel, hanya menyisakan nomor Angga.

Sisa-sisa kerusakan zat kimia masih tampak: gigi dan gusinya hitam, geraham kiri atas tanggal. Namun, masa lalu kelamnya terkunci rapat di balik koma.

>>> 3 Rekomendasi Bedak Tabur di Alfamart yang Bikin Makeup Lebih Awet

Bagi Maria, kehilangan sosok Tio yang lama adalah berkah. 'Sehancur-hancur saya, saya tidak akan mau balik ke sana,' tutupnya.