Setelah terapi awal, kondisinya memburuk keesokan harinya sehingga dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa.

>>> Infografis: Lari vs Narkoba, Mana yang Bikin Lebih Happy?

in1

Hasil foto toraks menunjukkan tuberkulosis paru aktif.

Korban dirawat di ICU isolasi, namun meninggal pada 23 Juni 2026 pukul 15.13 WIB akibat tuberkulosis aktif.

Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dari Satdik Yon Parako 465 mengeluhkan sesak napas dan lemas pada 25 Juni 2026 sekitar pukul 14.30 WIB.

Setelah mendapat terapi oksigen, kondisinya kembali memburuk sehingga dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa.

Di rumah sakit, ia menjalani berbagai pemeriksaan dan perawatan ICU. Korban meninggal pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB.

Penyebab kematian berkaitan dengan pneumonia disertai komplikasi medis. Riwayat kesehatan korban juga menunjukkan hipertensi dan obesitas.

Korban kelima, Nola Dya Sari dari Satdik C Kalimantan, pada 26 Juni 2026 masih mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas tanpa keluhan.

Sekitar pukul 18.45 WIB, ia mengeluhkan sesak napas dan badan terasa panas.

Ia segera dibawa ke IGD RS Singkawang sebelum dirujuk ke RSUD Abdul Aziz Singkawang. Dalam penanganan, korban mengalami henti jantung dan tim medis melakukan resusitasi.

Namun, korban dinyatakan meninggal pada pukul 21.03 WIB.

Kemenhan menyebut Nola telah dinyatakan memenuhi syarat kesehatan saat seleksi, meski memiliki catatan kelebihan berat badan. Evaluasi medis masih terus dilakukan untuk memperoleh gambaran lebih komprehensif.

Kesimpulan Evaluasi Medis

Gede menegaskan penyebab kematian kelima peserta tidak sama.

Dua peserta meninggal akibat gangguan sistem pernapasan (tuberkulosis aktif dan pneumonia dengan komplikasi), satu akibat heat stroke, satu akibat henti jantung, dan satu kasus masih dalam pendalaman medis.

>>> Emak-emak Lampung Berdesakan dan Intip Celah Pagar Demi Lihat Jokowi

Seluruh peserta telah mendapatkan penanganan sesuai standar medis, baik di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan.