Raksasa migas Amerika Serikat (AS) Chevron akhirnya buka suara soal harga bahan bakar minyak (BBM) yang tak kunjung turun di tengah pelemahan harga minyak mentah dunia.

Penjelasan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan kritik tajam kepada perusahaan minyak besar karena belum menurunkan harga BBM.

in1

>>> Jadwal Siaran Langsung Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026

Chief Financial Officer Chevron Eimear Bonner mengaku prihatin terhadap harga yang masih tinggi.

"Ada empati yang besar terhadap konsumen, baik di AS, Inggris maupun Eropa," ujarnya, Kamis (25/6), melansir CNBC.

Namun, Bonner menegaskan penurunan harga minyak mentah tidak serta-merta langsung diikuti turunnya harga BBM di SPBU. "Ini akan memakan waktu.

Ada jeda antara penurunan harga minyak dan kapan penurunan itu terlihat di pompa bensin," jelasnya.

Ia optimistis harga akan turun seiring situasi kembali normal. Sehari sebelumnya, Trump memerintahkan Departemen Kehakiman (DOJ) untuk menyelidiki perusahaan minyak besar.

Trump menuding Chevron, Exxon Mobil, Shell, dan BP mengambil keuntungan berlebihan karena harga BBM dinilai masih terlalu tinggi.

>>> Google TV Streamer 4K Turun ke Harga Terendah, Cuma $71

Di Gedung Putih, ia mengatakan harga bensin seharusnya sudah jauh lebih murah, idealnya di kisaran US$2,25 per galon.

Menanggapi kritik itu, Bonner menyebut Chevron terus berupaya meningkatkan pasokan energi. Tahun ini, perusahaan menargetkan pertumbuhan produksi sekitar 7 hingga 10 persen.

Sementara itu, juru bicara DOJ menyatakan harga bahan bakar bukan hanya isu keamanan nasional, tetapi juga berdampak langsung terhadap pengeluaran masyarakat.

"Kami akan selalu berkomitmen memastikan harga tetap terjangkau," ujarnya.

Harga minyak mentah dunia sendiri telah turun tajam sejak AS dan Iran menandatangani kesepakatan damai sementara pekan lalu.

Pada perdagangan Kamis, harga minyak Brent untuk kontrak Agustus turun sekitar 1,3 persen menjadi US$72,75 per barel.

>>> Cara Cek Status Pencairan Bansos BPNT Tahap 2 Tahun 2026

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah sekitar 1,1 persen ke US$69,60 per barel.