Harga minyak mentah dunia mulai menunjukkan penurunan signifikan.

West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun ke level USD71 per barel setelah berbulan-bulan bertahan di kisaran USD100 akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

in1

>>> Prabowo dan Gibran Hadiri Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 di Jakarta

Penurunan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan penghentian operasi militer. Meski demikian, pasar global masih dibayangi ketidakpastian.

Presiden Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya karena harga BBM di tingkat konsumen AS belum ikut turun. Ia menuding perusahaan migas melakukan pemerasan dengan mempertahankan harga jual tinggi.

Trump telah meminta Departemen Kehakiman AS (DOJ) untuk menyelidiki dugaan pengambilan keuntungan berlebih (profiteering). Ia mendesak penyesuaian harga di SPBU dilakukan lebih cepat agar tidak membebani konsumen.

Pembelaan Industri: Masalah Rantai Pasok

Menanggapi tuduhan tersebut, pihak industri migas memberikan klarifikasi.

>>> Netanyahu Disoraki Perwira Militer, Didesak Mundur saat Wisuda

Bethany Williams, juru bicara American Petroleum Institute (API), menjelaskan bahwa harga BBM tidak bergerak linier mengikuti fluktuasi minyak mentah.

Williams menyebut beberapa faktor teknis yang memengaruhi keterlambatan penyesuaian harga. Pertama, waktu distribusi kapal tanker yang memakan waktu berminggu-minggu dari kilang ke titik distribusi.

Kedua, kapasitas kilang dan rantai pasok global masih terdampak gangguan sebelumnya. Ketiga, pasar energi membutuhkan waktu untuk stabil setelah guncangan geopolitik.

>>> PDIP: Blusukan Jokowi Kampanye Politik untuk Masa Depan Gibran di 2029

Menurut API, fokus utama industri saat ini adalah menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat agar tidak terjadi kelangkaan di tengah situasi global yang masih rentan.