Opioid Medis Sulit Diakses di Indonesia, Ketakutan Penyalahgunaan Jadi Hambatan
Setiap tahun, Indonesia menyampaikan estimasi kebutuhan narkotika kepada Badan Pengawas Narkotika Internasional (INCB). Besaran pasokan sebenarnya tidak dibatasi, tetapi kuota impor tergantung pada laporan kebutuhan yang disetujui INCB.
Kementerian Kesehatan enggan mengajukan estimasi lebih besar karena mengklaim penggunaan opioid masih rendah. Namun, penelitian tahun 2026 menunjukkan rendahnya penggunaan justru dipengaruhi oleh minimnya ketersediaan obat.
>>> Profil Elizabeth Yu, Aktris Pemeran Azula di Serial Netflix Avatar: The Last Airbender Season 2
Di tingkat rumah sakit, kekosongan stok opioid sering terjadi. Waktu tunggu pemesanan panjang dan kewajiban pembayaran tunai saat barang diterima menjadi kendala.
Banyak apotek juga memilih tidak menyediakan opioid medis karena beban pelaporan berat dan keuntungan tipis. Akibatnya, pasien kesulitan menebus resep.
Tim peneliti dari berbagai universitas di Indonesia dan Australia menggelar lokakarya di Jakarta pada Juni 2026.
Mereka memaparkan hasil riset tentang faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan opioid medis di Indonesia.
Pejabat pemerintah yang hadir menyambut baik laporan tersebut dan sepakat situasinya memprihatinkan. Namun, perwakilan BPOM, Kemenkes, BNN, dan lembaga lain khawatir mempermudah akses opioid justru meningkatkan penyalahgunaan.
Kekhawatiran ini tampaknya merujuk pada krisis opioid di Amerika Serikat. Padahal, kondisi di Indonesia berbeda, tanpa pemasaran agresif perusahaan farmasi atau penggunaan opioid untuk nyeri kronis nonkanker.
Riset tidak menemukan bukti tenaga kesehatan membocorkan opioid medis. Dari 64 tenaga kesehatan yang diwawancarai, mereka memahami batasan regulasi, klinis, dan etika penggunaan opioid.
Penelusuran dokumen pengadilan juga tidak menemukan satu pun kasus pidana tenaga kesehatan yang meresepkan opioid medis di luar regulasi.
Sistem pengawasan yang ketat dinilai efektif menekan kebocoran.
Para peneliti menegaskan bahwa kebocoran obat ke jalur ilegal adalah ranah penegakan hukum, sedangkan akses terhadap opioid medis adalah hak warga atas kesehatan.
Pemerintah seharusnya mengedepankan kebutuhan pasien.
>>> Hiperpigmentasi, Masalah Kulit yang Dialami 73% Wanita Indonesia
Pembahasan tentang penggolongan obat dan terapi alternatif harus berpijak pada riset ilmiah, bukan ketakutan atas skenario terburuk. Pasien dan dokter berhak mendapatkan ketersediaan opioid medis untuk perawatan terbaik.
Update Terbaru
Pollux Hotels dan Accor Teken Kemitraan Strategis Jangka Panjang
Jumat / 26-06-2026, 16:21 WIB
Purbaya Bentuk Tim Monitor Penggunaan Anggaran MBG di Seluruh Daerah
Jumat / 26-06-2026, 16:21 WIB
Markas Judol Hayam Wuruk Kelola 145 Situs, Deposit Capai Rp13,9 T
Jumat / 26-06-2026, 16:20 WIB
Prancis vs Norwegia: Duel Tajam Mbappe dan Haaland di Piala Dunia 2026
Jumat / 26-06-2026, 16:17 WIB
Cek Saldo JHT BPJS Ketenagakerjaan Online Lewat Aplikasi JMO, Begini Caranya
Jumat / 26-06-2026, 16:16 WIB
Rekomendasi Nama Bayi Perempuan yang Melambangkan Keanggunan
Jumat / 26-06-2026, 16:16 WIB
SMEX 2026 Hadirkan 100 Brand Audio hingga Multimedia Teknologi Terkini
Jumat / 26-06-2026, 16:14 WIB
'World's Sexiest Footballer' Alisha Lehmann Resmi Bertunangan dengan Sesama Pesepakbola
Jumat / 26-06-2026, 16:00 WIB
Jung Saem Mool Tambah 4 Shade Cushion untuk Kulit Indonesia
Jumat / 26-06-2026, 16:00 WIB
Cara Cek 7 Bansos Cair 2026 dan 2 Jenis yang Resmi Dihapus
Jumat / 26-06-2026, 15:56 WIB
Industri Alas Kaki Masih Butuh SDM, Difabel Punya Peluang Besar
Jumat / 26-06-2026, 15:51 WIB
11 Rusun Baru Akan Dibangun Jakarta pada 2027, Ini Daftar Lokasinya
Jumat / 26-06-2026, 15:51 WIB
Hyundai Bawa Sensasi FIFA World Cup 2026 ke Dunia Gaming
Jumat / 26-06-2026, 15:51 WIB
Kode NBA 2K Mobile Bulan Juni 2026 dan Cara Redeemnya
Jumat / 26-06-2026, 15:43 WIB






