Sebuah kisah inspiratif datang dari Yogyakarta.

Warga di bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong berhasil merenovasi 165 rumah tidak layak huni hanya bermodal iuran sukarela Rp2.000 per hari.

in1

>>> Ramalan Zodiak 26 Juni: Capricorn Lebih Serius, Pisces Jangan Lawan Arus

Tanpa mengandalkan bantuan pemerintah sepenuhnya, mereka membangun sistem arisan tabungan bergulir. Kisah ini viral di media sosial setelah diunggah akun Instagram @pandanganjogja dan @paguyuban.

kalijawi.

Bermula dari Keterbatasan

Program ini digagas Paguyuban Kalijawi sejak 2012. Banyak warga kesulitan mengakses bantuan pemerintah karena tidak memiliki alas hak tanah.

Awalnya, gerakan ini mendapat dana hibah Rp300 juta dari Asian Coalition for Housing Rights melalui Arkom Indonesia. Namun, dana itu tidak cukup jika hanya digunakan langsung.

"Kami sepakati uang hibah itu tidak langsung dihabiskan, melainkan digulirkan," ujar Ainun Murwani, salah satu inisiator.

Warga sangat menyukai sistem arisan. Maka, diadopsilah sistem arisan tabungan untuk pembangunan rumah.

Mekanisme Iuran dan Hasil Renovasi

Warga dikelompokkan ke dalam 16 kelompok di 14 kampung. Setiap dua bulan, dana tabungan kolektif dicairkan ditambah subsidi dari dana hibah bergulir.

Setiap anggota mendapat modal stimulan Rp3 juta per unit untuk memulai renovasi dasar. Dengan gotong royong, dana itu menjadi lebih efektif.

Hasilnya, 165 rumah berhasil direnovasi dalam 20 bulan, dari 2012 hingga 2014.

>>> Cara Mencairkan Bantuan Sosial Rp600.000 bagi Pemilik KKS Baru 2026

Ainun menjelaskan, Rp2.000 per hari dikumpulkan di kelompok kecil berisi 10-15 orang.

Setelah dua bulan terkumpul Rp1,2 juta, Kalijawi mencairkan Rp3 juta, sehingga subsidi hibah Rp1,8 juta.

Awalnya banyak warga menolak karena takut uangnya dibawa lari. Namun setelah melihat contoh kelompok yang berhasil, mereka pun percaya.