Sekarang, banyak orang lebih panik jika handphone tertinggal di rumah dibanding dompet. Sebab, fungsi dompet dan saldo sudah terintegrasi dalam smartphone yang memudahkan transaksi digital.

Cukup dengan ponsel, pembayaran melalui scan kode QR, akun virtual, hingga tap kartu elektronik selesai dalam hitungan detik.

in1

>>> Sosok Ginka Febriyanti Ginting, Komisaris Pertamina Retail yang Menjabat di Usia 28 Tahun

Tidak ada lagi drama uang kembalian, uang rusak, atau kembalian diganti permen.

Kenyamanan dan efisiensi ini didukung oleh riset yang mengonfirmasi ledakan uang elektronik (e-money) benar-benar mengikis popularitas uang tunai di Indonesia.

Penurunan Permintaan Uang Kartal

Dalam ekonomi makro, istilah "permintaan uang kartal" merujuk pada keinginan masyarakat memegang uang fisik berupa kertas dan logam.

Secara teori, jika alternatif pembayaran digital semakin mudah, murah, dan aman, masyarakat akan malas menggunakan uang tunai.

Efek digitalisasi dari berbagai platform dompet digital dan uang elektronik berbasis kartu membuat pembayaran elektronik semakin populer.

Infrastruktur yang makin merata, kehadiran QRIS, dan standarisasi e-money oleh Bank Indonesia (BI) memudahkan transaksi tanpa uang kembalian atau risiko kehilangan.

Pedagang kaki lima hingga jaringan ritel raksasa kini bisa menerima pembayaran digital yang efisien. Dampaknya tidak hanya pada bentuk fisik uang, tetapi juga pada perekonomian negara.

>>> Atap Putih dan Ruang Hijau: Solusi Sederhana Turunkan Suhu Kota

Ketika masyarakat beralih ke e-money, BI secara bertahap dapat menghemat anggaran pengelolaan uang rupiah fisik. Uang tunai sering disebut sebagai anonymous currency yang sulit dilacak alirannya.

Sebaliknya, setiap transaksi digital meninggalkan rekam jejak. Semakin cashless sebuah negara, semakin sempit ruang gerak ekonomi gelap, pungutan liar, atau transaksi ilegal.