Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berseloroh bahwa dalam 10 hari terakhir ia merangkap sebagai project manager PT PLN (Persero).

Hal ini imbas dari pemadaman listrik bergilir yang terjadi di berbagai daerah.

in1

>>> Kacang Almond vs Kacang Tanah: Mana yang Lebih Baik untuk Jantung?

"Saya 10 hari terakhir jabatan saya Menteri ESDM merangkap PM PLN pengadaan batu bara, project manager.

Jadi ngurus batu bara sekarang," ujar Bahlil dalam acara Energy Forum CNBC Indonesia, Kamis (25/6).

Bahlil mengungkapkan bahwa pemerintah bersama Kejaksaan Agung, BIN, DPR, dan Kementerian Sekretariat Negara telah membedah persoalan kelistrikan.

Menurutnya, masalah pasokan batu bara untuk PLN bukan pertama kali terjadi, karena persoalan serupa juga muncul pada 2022.

Ia menjelaskan kebutuhan batu bara pembangkit PLN mencapai sekitar 154 juta metrik ton per tahun.

Volume batu bara yang sudah dikontrak PLN sebelumnya mencapai 134 juta metrik ton dan kini meningkat menjadi sekitar 141 juta metrik ton.

Menurut Bahlil, secara hitungan kebutuhan pasokan seharusnya masih mencukupi hingga akhir tahun. "Artinya ini dari 1 Januari sampai dengan bulan Juni.

Dari 154 juta kurang 141 juta itu kan berarti tinggal 13 juta. Masa batu bara habis di bulan enam.

>>> Banyak Anak Muda Hong Kong Pilih Menganggur, Ini Biang Keroknya

Jujur-jujur aja nih berarti kan ada sesuatu," jelasnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, pemerintah menemukan persoalan bukan pada volume batu bara secara keseluruhan, melainkan pada ketersediaan batu bara kalori menengah di atas 5.000 yang dibutuhkan sebagai campuran bahan bakar pembangkit.

Bahlil menegaskan pemerintah telah menetapkan kewajiban pasokan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO). Namun pelaksanaan teknis pengadaan berada di tangan perusahaan pemasok.