Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, bahasa tetap menjadi jembatan penghubung bangsa serumpun.

Semangat itu kembali diteguhkan dalam Musyawarah Sekretariat Ke-28 Majelis Bahasa Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia (MABBIM) yang mempertemukan delegasi ketiga negara.

in1

>>> Gempa Kembar 7,2 dan 7,5 Guncang Venezuela, Gedung Runtuh di Caracas

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, musyawarah sekretariat MABBIM diselenggarakan secara daring. Meski begitu, diplomasi bahasa yang telah dibangun selama lebih dari lima dekade tetap terasa kuat.

Forum Strategis untuk Diplomasi Bahasa

Ketua MABBIM Indonesia Hafidz Muksin menegaskan bahwa forum ini merupakan ruang strategis menjaga kesinambungan diplomasi bahasa antarnegera.

“Forum ini merupakan panggung penting untuk merajut kembali tali komitmen, memperdalam ikatan persaudaraan, serta memperpanjang estafet kerja sama kebahasaan,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).

Hafidz menyebut Musyawarah Sekretariat sebagai “dapur utama” organisasi. Menurutnya, forum ini menjadi ruang perumusan garis depan MABBIM.

Ia optimis setiap pemikiran yang lahir akan menghasilkan resolusi tajam dan berdampak nyata bagi eksistensi bahasa serumpun.

Sejak dikukuhkan pada 1972, MABBIM telah menjadi lebih dari sekadar forum kebahasaan. Ia menjadi sarana diplomasi budaya yang mempererat hubungan Brunei, Indonesia, dan Malaysia.

Sekretaris MABBIM Indonesia, Dora Amalia, menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang memperkuat komitmen bersama.

>>> Harga Emas Antam Stagnan di Rp2.655.000/Gram, Buyback Turun Rp52.000

“Pertemuan ini menjadi momentum berharga untuk memperkuat komitmen, mempererat persahabatan, dan melanjutkan kerja sama kebahasaan,” ujar Dora.

Penyelenggaraan secara virtual menjadi bukti bahwa kerja sama kebahasaan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kegiatan dilaksanakan secara daring dan diikuti secara maya oleh ketiga negara,” katanya.