Meski begitu, Lee serius tentang target tawa.

'Komedi bisa menjadi kekerasan,' akunya, menambahkan bahwa apa yang orang anggap lucu bersama kadang bisa mengecualikan orang lain.

in1

Dengan 'Manok', ia menyajikan 'tawa aman'—menyerang ke atas, bukan ke bawah—dan menyeimbangkan deadpan gaya Chungcheong dengan lelucon orang dalam dari komunitas queer.

Film ini juga menyinggung beberapa realitas kehidupan queer Korea: kelangkaan ruang aman di luar kota besar, kerentanan bar queer, beban keluarga, dan trauma karena di-outing.

Pada momen paling berbahaya, Cheol-ju secara terbuka meng-outing Manok di desa, situasi yang ditakuti banyak queer Korea.

Awalnya Lee menulis adegan panjang di mana Manok secara metodis meyakinkan penduduk desa yang skeptis untuk menerimanya.

>>> Classroom of the Elite Season 5 Resmi Diumumkan

Namun, ia kemudian bertanya, 'Apakah memang tugas orang queer untuk meyakinkan semua orang di sekitar mereka satu per satu bahwa identitas mereka OK?'

Alih-alih, ia menulis ulang klimaks seputar acara TV lokal yang menampilkan Manok sebagai calon.

'Yang dia butuhkan adalah melakukan pekerjaannya sebagai calon ijang, bukan juru bicara minoritas,' kata Lee.

Dalam adegan itu, Manok berbicara terus terang kepada tetangganya di platform mereka sendiri, dan film menyerahkan kepada penonton untuk membayangkan jumlah suara yang tepat.

Lee enggan dimintai solusi yang tidak bisa diberikan oleh satu cerita. 'Orang kadang ingin film ini menunjukkan bagaimana orang queer bisa menjadi politisi di Korea.

Tapi saya juga tidak tahu jawabannya,' ujarnya.

Ia menekankan bahwa itu tergantung pada masing-masing individu dan komunitas, dan terlalu berat untuk dibebankan pada satu karakter.

Dalam pemilihan pemain, Lee bertekad bekerja dengan aktor queer, terutama untuk peran yang dekat dengan generasi muda saat ini.