Film Korea 'Manok' (2025) menghadirkan tokoh utama yang jarang terlihat di layar lebar: seorang perempuan queer paruh baya yang mencalonkan diri sebagai kepala desa.

Sutradara Lee Yu-jin sengaja memulai dari karakter yang ia sebut 'pahlawan tidak sempurna' yang mengejar akhir bahagia yang 'berlebihan'.

in1

>>> The Grateful Camp: Festival Musik yang Mengutamakan Pengalaman Manusia

Lee mengaku ingin membuat komedi queer dengan akhir bahagia. Dari keinginan itu, lahirlah Manok, seorang lesbian yang mengaku diri 'kkondae' atau sok tua.

Menurut Lee, cerita tentang karakter queer muda sering berkisar pada cinta pertama atau krisis identitas.

Ia lebih tertarik pada seseorang yang sudah hidup sebagai queer dan harus menghadapi masalah hidup lainnya.

Lee juga ingin menghindari jebakan 'minoritas teladan' yang sering melekat pada karakter queer. 'Saya tidak ingin dia menjadi orang yang baik dan patut dicontoh,' ujarnya.

Ia menyadari bahwa figur queer yang tampil di publik sering diukur dengan standar moral yang tinggi. 'Kenapa Anda harus sempurna hanya untuk eksis?'

tanyanya.

Lee ingin memulai dengan karakter yang mungkin tampak tidak disukai atau kuno, lalu membiarkan penonton perlahan memahami dan mendukungnya.

Mengapa Desa, Bukan Seoul

Sejak awal, Lee memutuskan untuk tidak mengambil latar Seoul. Manok, yang diperankan Yang Mal-bok, digambarkan sebagai mantan pemilik bar lesbian di ibu kota.

Kisah sebenarnya dimulai ketika ia kembali ke kampung halamannya yang konservatif di desa fiksi Iban-ri setelah kematian ibunya.

Nama Iban-ri diambil dari istilah yang digunakan generasi queer Korea lama untuk LGBTQ.

Lee ingin membuat film queer berlatar pedesaan, dengan protagonis yang kembali ke kampung halaman yang tidak aman dan mengaduk 'angin baru' di sana.