Saat bepergian sendirian ke daerah pedesaan, Lee sering menginap di penginapan dan menyadari bahwa cerita desa selalu bermuara pada satu figur: 'ijang' atau kepala desa.

Peran antara penjaga lingkungan dan penjaga gerbang itu membuat pemilihan kepala desa menjadi alat yang tak tertahankan. Mantan suami Manok, Cheol-ju, adalah petahana yang menggunakan kekuasaan itu.

in1

Ketika Cheol-ju menggagalkan usahanya untuk hidup tenang, Manok akhirnya marah dan memutuskan untuk melawannya.

Latar di wilayah Chungcheong dipilih dengan sengaja. Lee berasal dari Cheonan di Chungcheong Selatan dan menyukai humor 'lembut tapi tajam' daerah itu.

Ia juga menyukai bahwa Chungcheong jarang disorot dalam budaya pop atau narasi politik, mirip dengan kisah Manok yang juga tentang seseorang yang terabaikan.

Memilih Tawa sebagai Senjata

Lee mengakui biasnya sendiri: ia suka membuat orang tertawa. Namun, itu lebih dari sekadar preferensi pribadi.

Menurutnya, ketika hidup sulit, orang pergi ke bioskop untuk aksi atau komedi. 'Orang queer juga sama—mereka juga ingin menonton sesuatu yang sangat lucu kadang-kadang,' katanya.

Saat meneliti politik desa, komunitas queer, dan kehidupan pedesaan, naskah mulai membengkak dan menjadi gelap. Lee menyadari film itu menjauh dari tujuan awal.

Ia terus bertanya pada diri sendiri, 'Jika saya hanya bisa melakukan satu hal dengan Manok, apa itu?' Jawabannya adalah mengisi dua jam di bioskop dengan tawa lembut.

Itu berarti memotong eksposisi berat dan memperlakukan riset sebagai bahan mentah untuk situasi komedi, bukan realisme dramatis. 'Sembilan puluh sembilan persen desa adalah fiksi,' kata Lee.

Detail seperti nenek 'gangster' yang melaju dengan skuter mobilitas, atau polisi tidur palsu yang menjadi lelucon berulang, berasal dari imajinasi berdasarkan pengamatan kecil dan kliping koran.