Balasan bagi Orang yang Berhijrah Jadi Renungan Muharram 1448 Hijriah

Memasuki Muharram 1448 Hijriah, umat Islam kembali diajak menjadikan momentum tahun baru Islam sebagai sarana memperbaiki diri. Bulan yang menjadi awal kalender Hijriah itu erat kaitannya dengan semangat hijrah, yakni berpindah dari keadaan yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih diridhai Allah SWT.

Dalam contoh khutbah Jumat bertema hijrah, Ketua LDNU Kabupaten Cirebon H Ahmad Zuhri Adnan mengingatkan bahwa Muharram bukan sekadar pergantian tahun, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat ketakwaan dan memperbarui komitmen menjalankan ajaran Islam.

Muharram dan Semangat Hijrah

in1

Muharram termasuk salah satu dari empat bulan mulia dalam Islam. Keistimewaan bulan ini disebutkan dalam Al-Qur'an dan diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bulan-bulan haram, yakni Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Penetapan Muharram sebagai awal kalender Hijriah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab atas usulan para sahabat. Bulan ini dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dan berbagai peristiwa penting dalam sejarah para nabi.

>>> Timnas Sepakbola Indonesia Absen di Asian Games 2026, Ini Alasannya

Makna Hijrah Tidak Hanya Perubahan Penampilan

Dalam khutbah tersebut dijelaskan bahwa secara bahasa hijrah berarti meninggalkan atau memutuskan sesuatu. Sementara dalam pengertian syariat, hijrah memiliki makna berpindah dari kondisi yang mengancam ke tempat yang lebih aman serta berpindah dari jalan kekufuran menuju keimanan.

Hijrah tidak boleh dipahami hanya sebagai perubahan penampilan lahiriah. Perubahan fisik tanpa diikuti pembenahan hati dan akhlak berpotensi melahirkan sikap merasa paling benar serta merendahkan orang lain.

Karena itu, substansi hijrah terletak pada upaya memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, menjaga keistiqamahan, serta menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.