Sebuah potret kontras muncul dari Malaysia: ribuan pencari kerja mengantre sepanjang dua kilometer di Melaka demi melamar 500 posisi di industri semikonduktor.

Fenomena ini terjadi saat sebuah perusahaan menggelar walk-in interview di hotel, dan antrean membeludak hingga pemerintah daerah turun tangan mengatur massa.

in1

>>> Cara Cek Status PKH dan BPNT Online Lewat HP, Mudah dan Cepat

Di Indonesia, situasi serupa terjadi dalam bentuk yang berbeda.

Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Timboel Siregar, menilai tekanan pasar kerja di Indonesia tidak kalah berat.

Setiap tahun, jumlah pencari kerja bertambah 2–3 juta orang, sementara lapangan kerja formal yang tersedia sangat terbatas.

Antrean 2 Kilometer di Melaka: Ketika 500 Kursi Kerja Diperebutkan Ribuan Orang

Antrean panjang di Melaka bukan sekadar rekrutmen biasa. Posisi di industri semikonduktor dianggap stabil dan bergengsi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sistem rekrutmen tatap muka berubah menjadi situasi darurat, dan pemerintah setempat membantu pengaturan massa serta menyediakan kebutuhan dasar bagi pelamar yang mengantre di cuaca panas.

Indonesia: Antrean 'Tak Terlihat' di Tengah Ledakan Pencari Kerja dan Dominasi Sektor Informal

Timboel Siregar menjelaskan, dari sekitar 2,5 juta lapangan kerja baru yang tercipta setiap tahun, sebagian besar berada di sektor informal.

"Yang mengantre ini adalah pekerjaan formal.

Sementara di Indonesia, dari sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru, yang formal hanya sekitar 200 ribu, sisanya informal," katanya.

>>> Rollme Hero D5: Smartwatch Tangguh dengan Dual-Band GPS dan Peta Offline

Artinya, Indonesia memiliki "antrean panjang" dalam bentuk lain: jutaan pelamar bersaing di platform digital, portal kerja, dan proses rekrutmen berlapis.