Memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah, umat Islam kembali dihadapkan pada momentum penting untuk melakukan evaluasi diri. Pergantian tahun dalam kalender Islam bukan sekadar penanda waktu, melainkan pengingat atas hijrah Rasulullah SAW yang mengubah arah perjalanan dakwah dan kehidupan umat.

Pada Jumat pertama di awal tahun Hijriah ini, tema hijrah menjadi salah satu pesan yang relevan untuk disampaikan kepada jamaah. Hijrah tidak hanya dipahami sebagai perpindahan tempat, tetapi juga perubahan sikap, pola pikir, dan perilaku menuju keadaan yang lebih baik.

Hijrah sebagai Titik Awal Perubahan

in1

Kalender Hijriah ditetapkan dengan menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah sebagai penanda awal. Keputusan tersebut menunjukkan besarnya arti hijrah dalam sejarah Islam.

Peristiwa itu menandai berakhirnya masa penuh tekanan yang dialami kaum muslim di Makkah. Setelah berada di Madinah, umat Islam mulai membangun kehidupan sosial yang lebih tertata serta memiliki ruang yang lebih luas untuk menjalankan ajaran agama.

Pada fase Makkah, dakwah Nabi berfokus pada penguatan akidah dan penanaman tauhid. Selama bertahun-tahun, umat Islam menghadapi berbagai bentuk tekanan dari kaum Quraisy. Kondisi tersebut berubah setelah hijrah membuka lembaran baru bagi perkembangan Islam.

Di Madinah, Nabi Muhammad SAW tidak hanya memimpin umat dalam urusan ibadah. Beliau juga membangun tatanan masyarakat yang menjunjung persaudaraan, keadilan, dan kemanusiaan. Ikatan kesukuan yang sebelumnya kuat perlahan digantikan dengan persaudaraan berdasarkan keimanan.

>>> Piala Dunia 2026: Enam Tim Sempurna Lolos ke Babak 32 Besar

Makna Hijrah dalam Kehidupan Masa Kini

Meski hijrah fisik sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW telah menjadi bagian sejarah, nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup hingga sekarang. Hijrah dapat diwujudkan melalui perubahan diri yang terus-menerus menuju kualitas hidup yang lebih baik.