Kepala BPSDM Komdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menjelaskan program ini tidak hanya berfokus pada pembelajaran teoritis, tetapi juga mendorong peserta menghasilkan solusi terapan untuk menjawab tantangan masyarakat.

"Pengembangan talenta AI membutuhkan lebih dari sekadar pembelajaran di kelas. Seharusnya lebih luas dari itu," ujarnya.

in1

Sejak diluncurkan pada 2025, AI Talent Factory telah melahirkan berbagai proyek berbasis AI yang mendukung prioritas pembangunan nasional.

Tahun ini, program diperluas melalui kerja sama dengan Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Gadjah Mada dengan melibatkan 98 peserta.

Para peserta mengembangkan aplikasi AI untuk perlindungan anak di ruang digital, penanganan disinformasi, ujaran kebencian dan fitnah, penguatan program Sekolah Rakyat, pemetaan kemiskinan, penyaluran bantuan sosial, hingga pemantauan isu di media massa dan media sosial.

Menurut Bonifasius, solusi tersebut dirancang untuk membantu pemerintah mengambil keputusan berbasis data, meningkatkan efektivitas program sosial, memperkuat perlindungan anak, serta mendukung strategi komunikasi publik yang lebih tepat sasaran.

Ia menegaskan penandatanganan kerja sama dengan JICA menjadi titik awal penguatan ekosistem talenta AI nasional yang lebih besar ke depan.

"Ini bukan kesimpulan dari proses, tetapi sebenarnya ini adalah awal dari bab ini, yang akan dibantu oleh JICA," ungkapnya.

>>> Menteri Maman Soroti Dampak Nyata Pemadaman Listrik Jawa Terhadap Usaha Kecil

Melalui kerja sama ini, Komdigi dan JICA berharap dapat mempercepat lahirnya talenta AI Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global sekaligus mengembangkan teknologi yang aman, bertanggung jawab, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.