Meski belum merinci bentuk pengembangannya, Rosan mengatakan area tersebut pada akhirnya akan ditransformasi menjadi kawasan baru sebagai bagian dari desain ulang kawasan GBK seluas sekitar 200 hektare.

"Pada saat ini mungkin saya belum bisa mengatakan, tapi rencana itu akan dijadikan suatu kawasan baru ya, eventually (Hotel Sultan akan dirobohkan)," ujar Rosan.

in1

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari arahan Prabowo yang meminta kawasan eks Hotel Sultan disiapkan sebagai ikon baru Indonesia dengan konsep yang terintegrasi dengan kawasan GBK dan fasilitas pendukung lainnya.

Selain hotel, pemerintah juga membuka peluang pengembangan kawasan berbasis olahraga dan pariwisata karena lokasinya yang terintegrasi dengan kompleks GBK.

>>> EastFood Indonesia Expo 2026 Hadirkan Peserta Mancanegara, Perluas Jaringan Bisnis

Namun, Rosan menilai masih terlalu dini untuk menjelaskan konsep rinci yang sedang disusun.

Pengelolaan dan Latar Belakang

Rosan juga mengungkapkan pemerintah telah menyiapkan sejumlah opsi pengelola untuk kawasan eks Hotel Sultan setelah proses pengambilalihan aset selesai dilakukan oleh Kementerian Sekretariat Negara.

Menurut dia, pengelolaan kawasan tersebut berpotensi diserahkan kepada perusahaan pelat merah sektor pariwisata, mulai dari InJourney hingga The Meru Sanur yang berada di bawah ekosistem BUMN pariwisata.

"Kita kan punya InJourney, kita punya yang namanya Meru.

Nanti kalau ini sudah selesai semua di Mensesneg, tentunya pengelolaannya kita akan pakai bisa InJourney (hingga) Meru," ujarnya.

Rosan menambahkan pengembangan kawasan itu juga sejalan dengan upaya pemerintah dan Danantara untuk memperkuat sektor pariwisata nasional.

Menurutnya, Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara ASEAN dari sisi jumlah wisatawan maupun rata-rata pengeluaran wisatawan.

Karena itu, pemerintah ingin mendorong pengembangan destinasi yang tidak hanya menarik lebih banyak wisatawan, tetapi juga mampu meningkatkan belanja wisatawan selama berada di Indonesia.