Faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga turut berperan dalam menentukan harga emas domestik.

Ketika rupiah menguat terhadap dolar AS, harga emas dalam denominasi rupiah cenderung mengalami tekanan, meskipun harga emas global tidak mengalami penurunan yang signifikan.

in1

Meski harga sedang terkoreksi, Ariston menilai kondisi ini justru dapat dimanfaatkan investor sebagai momentum untuk melakukan akumulasi.

"Emas masih layak sebagai investasi jangka panjang.

Saya masih melihat koreksi harga emas ini merupakan peluang untuk mengoleksi emas untuk tujuan investasi jangka panjang dua hingga tiga tahun ke depan," katanya.

Ia menambahkan, risiko geopolitik global yang terus berulang serta potensi pelemahan rupiah dalam jangka panjang masih menjadi faktor utama yang dapat mendorong kenaikan harga emas di masa mendatang.

>>> Katie Price Marah Wanita Kirim Pesan Mesra ke Suaminya

Ariston menjelaskan bahwa dalam kondisi ekonomi global yang stabil, harga emas umumnya bergerak relatif terbatas atau sideways.

Sebaliknya, ketika terjadi gejolak geopolitik maupun gangguan ekonomi global, harga emas cenderung mengalami lonjakan signifikan karena meningkatnya permintaan aset aman.

Oleh karena itu, investor yang telah memiliki emas dalam portofolionya dinilai masih layak mempertahankan kepemilikannya.

Bahkan, penurunan harga saat ini dapat menjadi kesempatan untuk menambah porsi investasi secara bertahap.

Menurut Ariston, baik emas fisik, emas spot, maupun emas digital sama-sama memiliki prospek yang baik.

Namun, masing-masing instrumen memiliki karakteristik yang berbeda.

Emas spot dinilai lebih cocok untuk kebutuhan transaksi jangka pendek karena memiliki tingkat volatilitas yang tinggi dan umumnya diperdagangkan menggunakan fasilitas leverage melalui pialang berjangka.

Sementara itu, emas fisik seperti Antam dan emas digital lebih sesuai untuk tujuan investasi jangka panjang.