Penerbit PUBG: Battlegrounds, Krafton, mengakui bahwa kebijakan agresif adopsi kecerdasan buatan (AI) mulai menimbulkan kelelahan di kalangan karyawan.

Pengakuan ini disampaikan dalam Nexon Developers Conference 2026 (NDC 2026) melalui sesi bersama dengan Nexon.

in1

>>> Stellaris: Nomads Hadir sebagai Ekspansi Pertama Season 10

Strategi 'AI First' dan Dampaknya

Krafton menerapkan pendekatan top-down dalam adopsi AI, didorong oleh arahan pimpinan.

Wakil Presiden Lim Kyung-young mengungkapkan bahwa perusahaan mendeklarasikan filosofi 'AI First' pada akhir 2025.

Survei internal menunjukkan 97,6% karyawan kini menggunakan alat AI.

Namun, transformasi cepat ini menuntut pengembang untuk terus belajar dan beradaptasi, yang menyebabkan kelelahan.

Berbeda dengan Krafton, Nexon menerapkan model bottom-up yang mendorong eksperimen bertahap.

Meski berbeda, kedua perusahaan sepakat bahwa kelelahan karyawan tidak terhindarkan.

Direktur AI Nexon, Kang Deok-won, menjelaskan bahwa masuknya teknologi baru membuat adaptasi sulit bagi karyawan.

Kurva pembelajaran yang konstan berdampak pada produktivitas dan moral.

Biaya AI yang Terus Meningkat

Selain kelelahan, masalah lain yang diangkat adalah biaya penggunaan AI yang terus naik.

Banyak alat AI modern menggunakan sistem berbasis token, sehingga biaya meningkat seiring pemakaian.

>>> Dataminer Temukan Petunjuk Baru Soal Peluncuran WoW Classic+

Krafton dan Nexon mengakui biaya ini semakin sulit dikelola.

Untuk mengatasinya, perusahaan berinvestasi dalam model prediksi biaya dan alat internal untuk mengevaluasi efektivitas AI.

Krafton, misalnya, membangun sistem yang memungkinkan tim membandingkan biaya model AI dan memilih opsi paling efisien.

Percobaan dan Kesalahan dalam Transformasi AI

Adopsi AI tidak berjalan mulus. Kedua perusahaan berbagi contoh eksperimen yang gagal dan langkah yang merugikan.

Nexon mencoba menerapkan alat transkripsi canggih tetapi harus menghentikannya karena risiko keamanan dan biaya infrastruktur.

Krafton mengakui beberapa alat AI skala besar gagal memberikan hasil yang diharapkan karena kurangnya penyesuaian untuk kebutuhan pengembangan game.

Meski menghadapi tantangan, kedua perusahaan tetap berkomitmen pada AI.

Eksekutif menekankan bahwa AI telah meningkatkan efisiensi di bidang pembuatan aset, debugging, dan otomatisasi alur kerja.

Namun, AI harus dipandang sebagai alat pendukung, bukan pengganti.

Tujuan utamanya adalah membebaskan pengembang dari tugas repetitif agar fokus pada kreativitas.

>>> Demo The Mistfall Hunter Jadi yang Paling Diminati di Steam Next Fest

Masa depan pengembangan game akan bergantung pada pertanyaan mendasar: 'Mengapa game ini menyenangkan?' —sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya direplikasi AI.