Kini, ancaman tersebut tidak lagi terbatas di Jepang.

Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2021 mengestimasi sekitar 745.000 orang di seluruh dunia meninggal pada tahun 2016 akibat penyakit jantung dan stroke yang dipicu jam kerja panjang.

in1

Riset WHO memperlihatkan bahwa bekerja selama 55 jam atau lebih per minggu meningkatkan risiko stroke hingga 35%.

Selain itu, terdapat risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik sebesar 17% lebih tinggi dibandingkan waktu kerja standar 35 hingga 40 jam seminggu.

Kelompok pria menjadi korban paling dominan dengan persentase mencapai 72% dari total kasus kematian global. Wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Barat tercatat sebagai kawasan dengan dampak paling parah.

Pergeseran budaya kerja yang mengkhawatirkan ini mulai merambah wilayah Eropa Barat dan Amerika Utara.

>>> Apakah Pompa Air Boleh Nyala Terus? Ini Cara Merawat yang Benar agar Awet

Fleksibilitas kerja jarak jauh, komunikasi digital tanpa henti, serta maraknya ekonomi gig membuat batasan antara kehidupan personal dan pekerjaan semakin kabur.