Fenomena karoshi, atau kematian akibat kelelahan kerja ekstrem, kini telah berkembang menjadi krisis kesehatan global yang mengkhawatirkan.

Budaya ini berakar dari etos kerja tinggi masyarakat Jepang yang terbentuk pasca-Perang Dunia II.

in1

>>> MenPPPA Ajak Perempuan Aktif Lindungi Anak di Pendidikan Keagamaan

Sistem ekonomi Jepang saat itu dibangun di atas kesepakatan loyalitas total karyawan demi stabilitas kerja seumur hidup.

Pola tersebut berhasil membawa Jepang menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia sejak era 1950-an hingga awal 1990-an.

Namun, dedikasi ekstrem ini memicu dampak fatal di lingkungan kerja.

Para karyawan kerap melewatkan waktu istirahat, lembur hingga larut malam, dan kurang tidur yang berujung pada kematian di meja kerja.

Kasus Karoshi di Jepang dan Dampaknya

Kasus gangguan kesehatan akut akibat beban kerja berlebih mulai terdokumentasi sejak tahun 1969 di Jepang.

Banyak pekerja mengalami serangan jantung, stroke, hingga bunuh diri akibat depresi berat yang dikenal sebagai karojisatsu.

Kementerian Kesehatan Jepang mencatat terdapat 1.304 kasus karoshi yang terdokumentasi pada tahun 2024.

Data tahun 2023 menunjukkan bahwa 10,1% pria dan 4,2% wanita di Jepang menghabiskan waktu kerja lebih dari 60 jam dalam seminggu.

Bagi pekerja wiraswasta, kondisinya bahkan lebih berat.

>>> Harga Emas Antam Turun Rp 61.000 per Gram dalam Sepekan

Sebanyak 15,4% pria dan 7,8% wanita di sektor tersebut melampaui batas waktu kerja 60 jam mingguan.

Ancaman Global Menurut WHO

Pemerintah Jepang telah mengupayakan regulasi jam kerja yang lebih ketat, meski perkembangannya dinilai lambat.

Kekhawatiran muncul di bawah kepemimpinan Sanae Takaichi yang memiliki rekam jejak hanya tidur dua jam per malam.